SKANDAL
Ketika semua anak-anak bodoh itu hanya bisa melakukan perbuatan sia-sia, aku santai saja dapat menonton dengan puas. Tentu sebagai tikus kecil aku bisa berkeliaran dimana saja, bahkan masuk ke celah-celah sempit sekalipun, seperti di bawah pintu, lorong-lorong di atas loteng, juga di sela-sela tumpukan buku di atas lemari yang memang jadi tempat favorit ku, di sini aku bisa menyaksikan bagaimana diatas sebuah sofa panjang berwarna coklat, kebuasan sepasang anak manusia yang telah digganyang oleh nafsu purba, layaknya sepasang kekasih yang akhirnya dipertemukan dengan hasrat berapi api setelah bertahun-tahun lamanya berpisah.
Sementara di luar ruangan lima kali tujuh meter ini sudah terdengar ribut anak-anak yang lagi-lagi gagal memergoki ke dua orang ini. Tapi juga harus ku akui akal si Pria gembrot, bersuara berat, dan kudengar sudah berkepala tiga ini sangat lihai menipu anak-anak yang selalu penasaran ingin mengintipnya.
Pernah sekali saat aku sedang berjemur diatas atap yang menjorok kearah lapangan basket, menikmati udara hangat, sekitar pukul tiga sore. Suara gendang bertalu-talu sebuah organisasi musik sekolah mengiringi para penari yang tengah latihan ketika tiba-tiba ia datang mengintrupsi, menghentikan semua kegitan yang sedang berlangsung itu.
“nak, tolong kalian berbaris dengan rapi dulu, saya akan memotret kalian”
Memotret? Untuk apa, begitulah mungkin pikir mereka semua.
“ini mau dimasukkan dalam laporan keuangan sekolah”
Keuangan Sekolah? Ah…kenapa manusia selalu menggunakan istilah-istilah aneh yang sulit kupahami, persetan dengan itu semua.
“tolong bergeser menghadap ke Musala! Ya begitu, Amir! Bagaimana barisannya sudah rapi? Yap mantap”
Persetan! Dengan kaki-kaki kecil ku aku lari melesat ke arah ujung sebelah kiri atap, dimana gerbang sekolah itu berada. Sudah kuduga Perempuan itu tergesa-gesa lari memasuki ruanganlima kali tujuh meter itu. Sepertinya sebagian dari mereka juga menyadari apa yang terjadi. Hem…itu sudah pasti, bagaimana tidak, untuk kesekian kalinya mereka di bodoh-bodohi dengan cara yang berbeda-beda.
Saat menyadari situasi telah terkendali, basa-basi sebentar lalu pergi meninggalkan anak-anak itu. Senyum, geleng-geleng kepala anak-anak itu tampak mencemoohnnya.
Saat pintu telah tertutup aku kembali menyelinap ke celah-celah atap seng mengarah ke tempat mereka berdua sedang berada.Seperti yang kuceritakan diawal begitulah awal selalu dimulai, saling menerkam, tetapi juga tetap menjaga agar suara keresek-keresek sofa tidak terdengar dari luar, rintihan napas si perempuan, cepat-cepat di bekap oleh tangan si lelaki.
Entalah aku tak paham mengenai cinta manusia, aku juga sering melakukannya dengan tikus-tikus lainnya, dan ku anggap itu sebagai cinta, tapi untuk perkara ini sangat berbeda, mereka melakukannnya selalu sembunyi-sembunyi dan sepertinya banyak yang tidak menyukai hal yang mereka berdua sering lakukan.Mungkin hukum moral dunia Binatang tentang seks sangat berbeda dengan dunia manusia. Mereka terlebih dahulu harus terikat dengan yang namanya Pernikahan, sesuatu yang selanjutnya akan menghalalkan mereka untuk melakukan seks.
Mereka berdua adalah Guru di Sekolah ini, tentu kalian sebagai pembaca, jikalau berpendidikan pasti mengerti maksudnya apa, dibanding aku yang Cuma bisa melihat dipermukaan saja.
Mereka telah selesai.
“Astagfirullahaladsim!, berdosalah bagi kalian yang melakukan perbuatan bejat seperti itu”
Derai tawa mereka pecah dari luar ruangan. anak-anak itu sudah memulai lagi.
“tak pantaslah seorang guru…hem maksud saya sepasang Guru mempertuhankan nafsu mereka” tambah salah seorang anak, dengan gaya sok bercerama.
“dorong mas, terus, terus, uh…” timpal anak lainnya diiringi tawa heboh mereka.
Mereka semua tetap di tempat itu sampai petang, bahkan ketika kumandang azan magrib, sebagian dari mereka tetap disana, seperti biasa mereka ingin memergoki kedua orang ini.
Perlu pembaca ketahui, ruangan ini tersambung dengan ruang-ruang kelas, segaris dengan dinding pagar yang menjorok ke kanan, memiliki dua pintu yang saling membelakangi, satu tepat berhadapan dengan dinding bagian depan gerbang, pos satpam yang berada pada sisi kiri bersebrangan dengan jalan keluar sekolah, sedangkan pintu kedua, langsung mengarah ke lapangan bagian dalam sekolah.
Karena anak-anak itu sudah hapal triknya, dua orang dari mereka berlari ke pintu bagian dalam yang mengarah langsung ke lapangan, tentu agak menjaga jarak dari pintu, sementara lainnya masih berada pada tempat semuala. Sudah mereka duga pasti ia akan keluar.
“eh…kalian belum pulang?”
“belum pak”
“bapak ketiduran tadi di dalam, tau-tau sudah magrib begini”
jika ada audisi kesting film, saya sudah pastikan ia akan langsung diterima sebagai actor
“oh…ya tolong nak, bantu bapak sebentar, tolong pindahkan alat-alat laboratorium yang ada di lab ke Perpustakaan dan Dodit panggil teman-teman kamu yang lain”
Jelas sudah ini hanya akal-akalan-nya saja, jika tadi ia tertidur, bagaimana mungkin ia tahu bahwa ada anak-anak lain di sekolah ini.
Sambil terus bolak-balik di atas loteng, aku melihat dodit memberi kode agar dua orang segera keluar dari gerbang, dan mengamati dari jauh, sementara yang lainnya ikut masuk membantu memindahkan alat-alat laboratorium itu.
Tapi Pembaca yang budiman perlu kita tahu bahwa Pria ini sangat berhati-hati dalam memperkirakan semuanya.
Ia keluar gerbang dan dari jauh melihat dua anak itu sedang duduk diatas jembatan, mungkin berjarak 50 meter dari tempat si Pria itu memanggilnya.
Jadilah mereka semua ditipu lagi, dasar Anak-anak bodoh!
~ ~ ~
Pekerjaan mereka usai dan bersiap-siap akan pulang.
“kenapa kalian belum pulang? ini sudah magrib”
“eh…Ibu Ratna, kami tadi diminta pak Arip bu, memindahkan alat-alat laboratoriumnya ke perpustakaan.
“pasti kalian berusaha memergokinya lagi ya?”
Kami hanya cekikikan, ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan guru-guru.
“saat ibu tadi masuk gerbang, saya bertemu Ibu Nina”
“benar bu?” kami semua terlonjak kaget, bukan terkejut karena Ibu Ratna bertemu dengan Ibu Nina, tapi kenapa bukan kami yang berhasil memergoki Ibu Ratna keluar dari ruangan itu.
No comments:
Post a Comment