Wednesday, 7 November 2018

SENDAL


Sendal
Ah….hari ini hujan turun lagi,  garis-garis hujan kian menebal, kulihat jam ditangan ku sudah menunjukkan pukul 02.45 artinya sudah lewat 45 menit waktu yang telah di tentukan oleh Pak Ramli, Orang yang belum sempat aku bertatap muka dengannya, hanya melalui telpon, katanya
“nak rombongan Penganntinnya masih di Perjalanan, ya sekitar pukul dua, usahakan sudah ada ditempat”
Sesaat setelah hujan agak tenang, kami pun yang sekitar 12 Orang ini berangkat dengan menggunakan motor, meski selalu saja begini, baru berselang beberapa meter dari tempat Kami berteduh, hujan kembali turun dengan deras, otomatis kami harus kembali berteduh, bukan terlalu akibat Pakain kami yang mulai basah kuyup tapi terlebih karena gendang yang kami bawa, Alat musik yang satu ini, jangan sampai terkena air, karena akan berpengaruh dengan kulitas suara yang dihasilkannya nanti.
Sudah kuduga, rombongan Pengantin sudah tiba di Lokasi sebelum Kami, tentu Aku sebagai Ketua akan malu, karena hal ini, tapi sepertinya Mereka agak sedikit memaklumi dengan kondisi cuaca sekarang ini, dengan sesegera mungkin kami pun berpakain, tapi baru hendak pergi, salah satu teman kami Lupa membawa Pakainnya, sial, kami akhirnya hanya menari dengan enam orang, empat orang Pemain musik, satu Orang merekam dan satu lagi disamping pemain musik ikut menanyikan kelong-kelong kajang atau nyanyian kajang.
 Penampilan kami tetap sukses, meski kekurangan Pemain, dan riuh tepuk tangan Penonton dengan wajah-wajah yang masih agak tegang seusai penampilan kami terlihat masih berbekas, sepertinya meraka baru Pertama kali melihat tarian seperti itu, tari tradisional kajang, Tari Pa’bitte Passapu, katanya rombongan mereka memang dari Bone, daerah di luar Kalimporo atau masih dalam ruang lingkup Kecamatan kajang.
 Kami seusai melakukan Pementasan seperti biasa berbenah untuk pulang, dan sepertinya kesialan masih menghampiri ku, Sandal ku secara gaib, raib entah kemana, Sandal Putih dengan corak biru bermerek sowallow yang selalu setia menemani kemanapun aku berada telah hilang, tak ada tanda, tanpa bekas.
Satu jam bersama teman-teman berjuang dan yang ada hanya kehampaan, aku pun pulang sebagai Pria kajang yang tak beralas kaki, di iringi gelak tawa teman-temanku.
~ ~ ~
Tidak seperti kebanyakan siswa-siswa SMA lainnya, yang seusai sekolah langsung pulang kerumah, hari-hari yang kulalui banyak tersita oleh kegiatan Sanggar yang sudah sejak dua tahun lalu aku masuki, Sanggar seni Budaya turiolo Kajang atau biasa disingkat SSBTK adalah tempat dimana aku bersama teman-teman banyak menghabiskan waktu bersama dalam kegiatan berkesenian yang merupakan aktivitas keseharian kami, memang sudah sejak beberapa tahun sejak Sanggar ini di bentuk mulai dari awal Perintisan hingga sekarang, Sanggar ini sudah dikenal luas oleh masyarakat, kami telah melakukan Pementasan Tari di berbagai daerah, bahkan Kami telah di bawa oleh Dinas Parawisata Bulukumba untuk melakukan Pementasan Tari di Jakarta dua tahun lalu.
seperti bisa hari ini Kami mendapat orderan lagi untuk melakukan pementasan Tari di acara Perkawinan.
hari ini semangat ku sangat menggebu-gebu karena seperti yang kau tahu sejak sebulan lalu belahan jiwaku yang lain telah hilang, dan sepertinya firasatku mengatakan bahwa ini adalah takdir yang akan mempertemukan aku dengannya lagi, karena hari ini Kami akan melakukan Pementasan di lokasi yang berdekatan dengan tempat yang sejak tiga bulan lalu kami tempati, ditambah lagi salah sorang dari sana mengabarkan bahwa Sandalku telah ditemukan, entah bagaimana kondisinya sekarang.
Tari Pa’bitte Passapu adalah tari tradisional Kajang yang biasa  dipentaskan oleh Pria-Pria Kajang dengan iringan alat musik Pengiring berupa gendang juga alat musik lainnya, dengan Pakain serba hitam, lengkap dengan sarung yang diikatkan di pinggang, sebuah Passapu, atau kain Penutup kepala khas Kajang yang dibentuk sedemikian rupa, dililitkan keseluruh bagian kepala hingga tampak seperti bentuk segitiga yang mengerucut keatas, dan juga sebuah badik, senjata tradisional Sulawesi selatan, sesuai tradisi tarian ini dilakukan  tanpa menggunakan alas kaki, olehnya itu kami harus selalu siap dengan segala kondisi yang ada seperti menghadapi Aspal yang panasnya terkadang tiada terkira, dan kerikil-kerikil tajam yang kerap kali bisa saja melukai kaki. 
Seusai Pementasan, semua peralatan musik, juga pakaian kami angkut keatas mobil berbak terbuka, hari ini memang Kita di antar pulang menggunakan mobil, jadi kami tidak usah repot-repot lagi membawa Peralatan menggunakan motor, hanya berjarak sekitar 50 meter dari tempat kami sekarang menuju arah jalan Pulang, sandalku telah menanti kedatanganku, kehangatan kaki ku akan segera kau dapatkan lagi.
“Pak, berhenti disini pak !” teriak ku agak kencang
Dengan gaya bak drama-drama Korea, aku melompat, lalu berlari menghampiri rumah yang ber cat kuning terang, dengan taman di sekelilingnya, rumah ini telah banyak berubah, bagaimana dengan mu? Pikirku, masih berlari  dengan wajah sumringah, di pintu belakang rumah, disamping pot hijau, pikirku mengingat-ingat perkataan pemilik rumah tersebut.
Dibawah keriangan langit biru, angin sepoi-sepoi, hari yang sungguh cerah, aku datang, disamping pot hijau, dimana?, mataku mencari-cari, ah…ini dia, sedikit berdebuh, menutupi putih tubuh dirinya, dengan wajah menyelidik, aku mendapati sesuatu yang menyengankan, disamping terlalu besar untuk ukuran kakiku, juga ada inisial A yang bertuliskan di bagian sudut kanan bawah sandal itu, mirip bukan berarti sama, dia bukan sandalku.

No comments:

Post a Comment