Wednesday, 7 November 2018

OUTLINE NOVEL

 OUTLINE / KERANGKA KARANGAN NOVEL

Judul :Psikopat
Genre : Misteri, romance
Karakter :
1. Doni Alamsyah (Seorang Psikopat Sekretaris Leon) 
2. Hadin (Kekasih Doni)
3. Wilda (Perempuan aneh yang suka bermimpi buruk)
4. Natasya (Adik angkat Doni)
5. Yuna (Sahabat terbaik Hadin)
6. Reyhan (Sahabat sekaligus saingan Doni)
7. Arum(Perempuan genius dan Pecinta Novel)
8. Leon anandito Anugerah (Ketua Organisasi)
9. Ayah Doni, Erwin (Pejabat, Calon Bupati Bulukumba)
10 Ibu Doni, Anita (Pemilik Restoran) 
11.    Nisa (Pendukung)
12.    Tira (Pendukung)
13.    Ulan (Pendukung)
14.    Juna (Pendukung)
15.    Farel (Pendukung)
16.    Iksa (Pendukung)
17.    Iko (Pendukung)

Bagian Awal
Chapter 1 (1,2) Terjadinya sebuah pembunuhan oleh Doni
Chapter 2(3,4) terpilihnya lagi Doni sebagai Sekretaris umum Oganisasi, juga merupakan awal jalinan cinta Doni dan Hadin
Chapter 3 (5, Pertemuan tak sengaja Doni dan Fitry, sampai terjadi hubungan Saudara 
tak sekadung
Chapter 4 (6, Kecurigaan Hadin yang sering melihat Doni Menyendiri dan terlihat Gelisah 
Bagian Tengah
Chapter 5 Tentang mimpi-mimpi buruk Wilda, sampai pada mimpi tentang Kematian
Doni yang gantung diri
Chapter 6 Tragedi perceraian Orang Tua Doni, hingga sampai pada kasus KDRT, 
Doni semakin menderita  
Chapter 7 Kepedulian Natasyah pada Doni membuat Hadin cemburu, Yuna menghibur Hadin
dan kemarahan Reyhan yang berujung pada perkelahian
Chapter 8 Perilaku-perilaku Menyimpang mulai muncul pada diri Doni membuat  
seluruh sahabatnya curiga, terutama Arum seorang Wanita Genius dan 
pecinta Novel
Chapter 9 Wilda yang mempunyai masalalu buruk memahami kondisi Doni
Chapter 10 Kehancuran Organisasi yang di Pimpin Doni, lalu Pimpinan diambil alih 
oleh Leon
Chapter 11 Kematian Ibu Doni tapi tak membuat Doni sedih
Chapter 12 Percobaan bunuh diri Doni,
Chapter 13 Rehabilitasi Doni, 
Bagian Akhir
Chapter  14 Ayah Doni Keluar Penjara, Pengungkapan masa lalu Ayah Doni
Chapter 15  Arum mengusulkan ide kepada Doni untuk membuat Novel dan
mengangkat kisahnya sendiri
Doni kembali ke sisih Indy, dan Fitry menjadi bagian   dari keluarga 
1
Terkadang dengan Kematian, semua masalah akan terasa Selesai, Kematian akan menyelesaikan segalanya menjadi suatu kelegahan yang tak jelas tapi selesai, tapi tidak, Kematian itu hanya akan menjadi sebuah Misteri yang terkubur yang seiring dengan berjalannya waktu pasti akan terungkap dan bahkan akan menambah rentetan masalah tersebut, orang-orang yang tak tahu menahu pun akan ikut menjadi korban, korban akan keegoisan yang terdoktrin oleh perasaan semu yang tak pasti, yang bahkan tak diiringi pikiran yang jernih, semua hanya akan menjadi mimpi buruk yang nyata, menghantui disetiap detik denyut hidupmu, masalah yang tak selesai dengan cara bijak hanya akan terkubur lalu bangkit menjadi sesuatu yang lebih besar dan menakutkan.
setidaknya inilah yang dirasakan oleh Doni Alamsyah, terasa tak ada lagi cahaya dihatinya, hanya kegelapan, amarah yang meledak dari seorang Pemuda lugu yang masih duduk dibangku SMP, dengan kecamatanya yang sudah tampak retak terlepas jauh kegenangan air,wajah tampannya yang lusuh ternoda oleh darah, darah yang ia anggap sebagai darah yang paling menjjikan dari orang yang ia paling benci di muka bumi ini, cahaya remang-remang di gang malam itu menambah suasana menjadi kelam, riuh gonggongan anjing terdengar diseantero Kota Bulukumba, hujan deras yang turun tambah memperkeruh suasana.
Pukulan yang di layangkan Doni terus menghujam wajah Pria paruh baya itu, napas Doni yang awalanya memburu kini mulai tersengal-sengal, tak ada sepata kata pun yang keluar dari mulutnya, Pisau yang masih tertancap di perut Orang itu terus mengeluarkan darah, memang sesaat setelah berpapasan, Doni yang menggenggam pisau dibelakang tubuhnya itu langsung, menikam orang itu tepat di tengah-tengah perutnya, kemudian sesaat setelah Doni berhenti sejenak, Pria itu sempat bergumam tak jelas, 
“maa…af kan Aku Di..on!” entah mengapa Pria jangkung, yang berumur sekitar 32 tahun itu terasa akrab dengan Doni 
Doni tiba-tiba merasa terkesiap, Dion? Nama sapaan akrab Doni kini terdengar hina di telinganya
Dengan geram Ia menghardik Orang itu “Siapa kau ?hanya Ibu ku yang berhak memanggilku seperti itu !”   
Doni kemudian menarik pisau itu lalu dengan sadis Iamenusukkannya berulang kali ke dada orang itu,
“Araghhhh!” seketika itu juga ia berteriak, suaranya melengking pertanda ia sangat kesakitan dan setelah teriakan itu juga Ia terlihat tercekik tampaknya ini detik terakhir hidupnya, darah kental yang keluar dari mulutnya memperkuat kepastian bahwa Ia akan benar-benar mati, dengan perlahan Doni kemudian bangkit lalu pergi, di jalan itu ia berjalan dengan sempoyongan, bayang-bayang Ayahnya mulai muncul Ia teringat kehangatan Ia dengan Ayahnya sewaktu ia masih kecil.
“pernah sekali ayah berkelahi sewaktu SMA, biasa karena masalah sepele, dan waktu itu teman sekelas Ayah pula, hanya karena lupa kerja Tugas Rumah, Guruku menghukumku, setelahnya Teman-teman lalu mengejek Ayah, karena tersulut emosi Ayah langsung menghajarnya, sampai-sampai ada luka lebam di Kepala Temanku itu, ya meski merasa keren, tapi kalau Ayah pikir-pikir lagi itu sungguh hal yang memalukan, kau nanti mencobalah untuk bersabar jika ada yang seperti itupadamu atau kau langsung pergi saja, kan tidak bedanya Kau 
dan Dia jika Kau sendiri meladeninya ”
Hening sejenak lalu Ia melanjutkan 
”dansuatu saat nanti kau juga akan merasakan hal yang 
Sama”
“Sama, sama apanya Yah? Timpal Doni
“Ya Sama, klau kau sudah mulai tertarik, carilah yang seperti Ibumu, jangan lupa yang jago memasak, itu poin penting yang harus ada ,ehmmm….ya kurasa, tapi yang membuatmu nyamanlah”
Seketika itu juga Doni mulai meneteskan air mata, hatinya terasa tertusuk oleh Pisau yang Ia gunakan sendiri untuk membunuh, sakit, sakit yang teramat sangat sakit, tengadahnya kelangit  membuatnya mengingat segalanya, mengingat hal-hal indah yang Ia telah lalui, yang kini terasa tak berarti lagi, semua terasa sia-sia, kebahagiannya selama ini tinggal kenangan, Ia adalah seorang pembunuh, Pembunuh kejam.
tak terasa setelah terus berjalan Ia berhenti di Sebuah masjid, Ia baru ingat bahwa Ia belum Salat Isya, tapi apalah arti semua ini.
Dosaku sudah sangat besar
“huffft….” Tapi etah mengapa Desiran napasnya tetap membawanya kedalam masjid itu, Ia hendak membersihkan diri dari noda dara yang masih menempel di tubuhnya, Ia membasuh dirinya dengan air, perlahan darah yang menempel ditubuhnya menghilang, meski tak sepenuhnya menghilang karena sepertinya noda di hatinya akan terus ada dan berbekas, bukan karena Pria yang telah Ia bunuh itu tapi karena nasib Keluarganya nanti.
Didalam masjid,waktu menunjukkan sudah pukul 01.48, Ia lalu meraba-raba kantong celananya tampak Hand Phone yang sering ia gunakan sudah tidak berfungsi lagi, kemungkinan besar Ibunya pasti sudah khawatir, sembari bersandar di tembok masjid yang terasa dingin, Ia juga masih berpikir apakah Ia masih pantas berada ditempat ini, pikirannya berkecamuk diatara dua pilihan dimana Ia akan pergi atau tetap tinggal, di sela-sela pikirannya itu kantuk menghampirinya, tak terasa sandaranya sudah tak berada ditempatnya lagi, Ia sudah tersungkur pulas di karpet mesjd itu,.
Doni adalah fase ke dua dari problematika yang dihadapi keluarganya sendiri, di fase ini masalah itu sudah tambah membengkak, membengkak karena akibat dari penyelesaian yang tak bijak dari seorang pemudah lugu, yang memang masih tak pantas berada di posisi itu, Ia hanya korban, korban yang sepertinya akan menjadi seseorang yang paling terpuruk dari masalah ini.
“Assalatu khairun minannaum….” terdengar Pertanda salat subuh akan dimulai, Doni yang masih tertidur pulas tak mendengar kumandan azan itu, pria tua dengan janggut putih lebat datang lalu menghampirinya.
“hey bangun, bangun !” dengan suaranya yang agak lantang seakan-akan terdengar menghardik, sampai-sampai membuat orang-orang yang ada didalam masjid tersebut memperhatikan Mereka, suara itu membuat Doni terkejut, tak seperti Ustaz biasanya yang cenderung berlaku lembut dengan tutur kata yang sopan, entahlah mungkin karena pakaian yang dikenakan Doni yang masih basah dan kotor, lalu Ustaz itu berpikir hanya mereka yang berpakaian pantas dan bersih yang bisa masuk ke mesjid ini, tapi sepertinya Tuhan tak berpikir seperti itu, bukankah hanya karena keterpaksaan dan tidak ada pilihan lain lagi membuat Ia terpaksa berteduh di dalam Rumah Tuhan itu, katanya, tapi sepertinya ustaz itu tak berpikiran sama hanya karena sudah melihat tampilan luarnya yang urakan maka dengan tatapan sinisnya Ia berkata seenaknya.
“Woi ini tempat Ibadah bukan tempat untuk tidur” katanya lagi yang terdengar  lebih angkuh dari sebelumnya
Doni yang masihterkejut karena makian Ustaz itu, seraya bangkit lalu berlari sekencang-kencangnya menuju pintu keluar masjid, hampir saja Ia terpeleset di teras, ketika Ia hendak turun ke tangga masjid itu, Ustaz yang sepertinya masih marah tersebut spontan mengucapkan 
“Astagfirullahal adzim”  lalu dilanjutkan dengan kata-kata makian “huh…. Dasar! semoga kau kena asab dari Allah”
Setelah agak jauh dari masjid, Doni perlahan berhenti tapi detak jantungnya masih menggebu-gebu, entah karena suara Ustaz tadi atau apa, karena biasanya Doni tidak terkejut jika Ayah atau Ibunya membangunkannya untuk salat subuh, mungkin karena Ia masih takut, takut ketahuan bahwa Ia yang telah membunuh Orang itu
Tak terasa setelah beberapa saat berlalu tampak mentari sudah merayap masuk ke lorong-lorong gelap kota, Doni juga tampak sudah berada didepan pintu rumahnya, seperti biasa jika kokok ayam sudah berkumandang, pasti Pintu rumah Doni sudah tebuka, perlahan Doni mengendap-endap masuk ke kamarnya.
“apa? Doni tidak ada juga, kemana sih Dia” dengan memberengut, Ibu Doni yang sedari tadi menelpon ke Teman-teman Doni terdengar sudah tampak kesal bercampur khawatir didalam kamar, Doni yang mendengar suara Ibunya itu langsung buru-buru masuk ke kamarnya, tapi akibat kurang hati-hati Doni menabrak ember berisi air, sepertinya Ibunya baru saja mengepel rumah, terlihat dari lantai yang masih agak basah, mendengar suara itu sontak saja Anita terkejut lalu buru-buru  keluar dari kamarnya.
“Dion?Dari mana saja kamu?” Suara lantang dari seorang wanita cantik yang terlihat masih muda membuatteliga Doni terasa terbakar akibat teriakan Ibunya, Ia sudah menduga pasti ini akan terjadi, dan ia sudah siap dengan apa yang akan terjadi, tapi karena itu juga yang membuat Donimerasa agak bersalah karena membuat khawatir Ibu yang sangat  dicintaiya itu, melihat Ibunya marah, itumembuat Ia tiba-tiba teringat kejadian tadi malam, dan itu membuatnya sedikit tercengang.
“dan kenapa baju kamu basah?, dari mana saja kamu?, kemarin waktu kamu SMS Ibu, katanya kamu Cuma sampai pukul enam, tapi sampai pukul Sembilan malam kamu belum pulang-pulang juga” 
belum sempat Doni menjawab pertanyaan beruntun yang dilontarkan Ibu Doni, Ia melanjutkannya lagi.
“Dan dimana kamu tidur, kenapa pakaian kamu bisa basah begitu?Hey jawab, kenapa kau melihat Ibu seperti itu?”
belum sempat Ibu Doni melanjutkan kata-katanya lagi tampak Ia memperhatikan  sesuatu di kerah baju Doni, lalu Ia hendak menyentuhnya tapi Doni tiba-tiba mengelak lalu berbalik lari masuk ke kamarnya.
“nanti aku akan ceritakan aku mau mandi dulu” sahut Doni tiba-tiba, karena sedikit kaget ia menutup pintu kamarnya dengan agk keras
“hey hati-hati!” dengan keherenan Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan tentu masih ada segudang tanda tanya yang masih berkelebat di kepala Anita.
Dan belum sempat Ia berbalik, Ia teringat sesuatu.
“oh iya kau belum makan kan, Kau mau kubuatkan apa?”
“yang seperti biasa saja” teriak Doni yang masih bersandar di belakang pintudengan telinga yang merapat ke pintu kamarnya, dan perlahan bergerak menjauh setelah memastikaan Ibunya sudah tidak berada kamarnya.
Sambil terlentang di kasur, Doni dengan mendesah tampak memperhatikan Noda darah di kerah bajunya, untung saja Ia memakai pakain merah gelap, sehinggah dara yang masih tertempel di bajunya tidak terlalu jelas, itu membuat Ia khawatir, sambil memperhatikaan itu ia masih berpikir untuk menjawab segudang pertanyaan Ibunya tadi yang belum sempat Ia jawab satu pun, dan tentunya Ia berpikir untuk tidak mejawab semua pertanyaan itu dengan jujur.
~ ~ ~
Sambil memperhatikan anaknya yang sedari tadi seperti terlihat mengulur-ngulur waktu untuk berbicara dengan dengannya yang dengan pelan melahap makanan yang telah siapkan, yang sepertinya tidak habis-habis membuat Anita sedikit merasa dongkol, dan sambil berdehem.
“Ehm, bukan kah ada yang harus kau katakan?” dengan wajah yang tampak menyelidikAnita membuka pembicaraan.
“Yah aku?Kenapa?” dengan mata melotot, Doni berusaha mengendalikan diri.
Anita memicingkan matanya sambil mendengus pelan.
“ceritakan apa yang terjadi padamu”
Melihat ekspresi wajah serius Ibunya, Doni menghela nafas, dan meletakkan sendok yang Ia pegang ke piringnya.
Dengan ekspresi yang sama, Anita seolah-olah ingin melahap Doni hidup-hidup, Ia lalu menyodorkan segelas air ke Doni.
“emm minumlah !”
Sambil meminum segelas air yang diberikan Ibunya Ia masih sempat mengulu-ngulur waktu untuk meminum air tersebut dengan perlahan.
“Hey cepatlah” dengan nada marah, Ibu Doni sudah tampak lebih mengerikan dari sebelumnya, bahkan sekarang ia seperti vampire yang haus darah  yang sudah siap menerkam Doni kapan saja.
Sontak ituk membuat Doni tersendak, dan menyemburkan sisa air yang ada didalam mulutnya, dan sambil terbatuk-bauk Doni memukul-mukul dadanya akibat dari terikan Ibunya
“Baik-baik akan ku ceritakan” sambil terus memutar bola matanya Doni terus berpikir harus dimulai dari mana, dan tiba-tiba ia mendapatkan Ide.
“sebenarnya HP yang Ibu belikan padaku rusak”
“Apa?” mata Anita melotot, karena Respon yang tiba-tiba itu sungguh membuat Doni sangat terkejut.
“Tunggu dulu, Aku memang meng-SMS Ibu bahwa aku akan pulang pukul enam karena masih ada pekerjaan sekolah yang harus aku kerjakan bersama teman-temanku, tapi waktu itu memang hujan sangat deras di Sekolahku, dan aku nekat untuk pulang, tapi karena derasnya hujan, pandangan ku agak terhalang, lalu tiba-tiba aku tersandung oleh batu besar yang ada didepan ku, aku pun tersungkur jatuh, dan hand Phone yang ada di saku celana depanku terHadin dan rusak. Dan…
“dan apa?” timpal Anita yang sudah sangat penasaran 
“dan…ya tentu saja aku takut dimarahi oleh Ibu jadi aku tidur di Rumah teman ku saja” jawab Doni tergagap
“selain itu baju yang aku kenakan basah dan kotor semua, dan tentu Ibu pasti akan marah karena itu” penjelasan Doni selesai, sembari berharap kebohongan ang Ia utarakan dipercaya oleh Ibunya.
“Hyuf….” Sambil menghela napas lega, Anita Nampak bersyukur karena apa yang dipikirkannya hanyalah khayalan belaka.
“kukira kau melakukan pembunuhan atau apa?, Sampai-sampai tidak serperti biasanya, lain kali jika kau memang ingin menginap dirumah temanmu itu beritahu Ibu dulu, kan kau bisa meminjam Hp temanmu dulu dan untungnya saja hari  ini hari libur”
Mendengar kata itu, Doni seketika itu juga tertegun sambil memandangi Ibunya.
Sebenarnya aku memang pembunuh, tapi aku juga ada pertanyaan untuk mu Ibu, ataukah Ayah juga tau tentang Orang itu?
Doni yang masih tertegun, tiba-tiba di kagetkan oleh suara Ibunya yang sudah tidak penasaran lagi.
“sudahlah bereskan meja ini, lalu bawa semua piring-piring ini ke dapur, oh iya baju mu yang kotor itu cepat di cuci, Ibu
mau ke Restoran dulu, Ibu sudah terlambat”
Sambil bangkit dari kursinya Anita berbalik pergi ke kamarnya
Sambil membereskan piring-piring diatas meja, doni masih berpikir mengenai apa yang terjadi tadi malam, ia yakin akan segera mendapat kabar mengenai kematian pria itu.
Anita yang kembali mucul dari kamarnya telah bersiap ke Restoran, restoran yang Ia dan Erwin Suaminya kelola sendiri, tapi karena kesibukan Erwin sekarang ini dengan urusan politiknya, Ia tak bisa lagi menemani Anita lagi ke  Restoran itu, akhirnya Anita sendiri yang mengelola Restoran tersebut
“kunci pintu rumah Ibu letakan didekat TV, jangan lupa kau kunci pitu saat keluar, Oh iya Ibu tadi di telpon oleh Ayah mu katanya Ia akan pulang besok pagi”
“Baik Bu” sahut Doni sembari melihat kepergian ibunya yang tersenyum manispadanya.












2
Setelah dilakukan Autopsi dan Olah TKP ditempat terjadinya pembunuhan sadis itu,Polisi yang melakukan penyelidikanhanya membutuhkan waktu beberapa hari saja untuk menemukan beberapa bukti kuat bahwa pelaku Pembunuhan itu adalah Doni, tempat Pembunuhan itu memang agak tertutup karena hanya ada jalan sempit dan tidak ada penerangan saat di malam hari, tapi karena ditemukannya beberapa bukti, diantaranya Kecamata yang biasa di pakai Doni, dan Pisau dapur miliki Ibunya, kemudian Setelah dilakukan survey kepada orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian tersebut akhirnya Polisi menemukan Tersangka utama pembunuhan sadis itu. tapi Polisi masih belum bisa mengungkap identitas korban. 
Sambil menunjukan surat Isin penggeledahan, Polisi menemukan bukti baru lagi, yaitu pakaian yang dikenakan Doni terdapat bercak darah Korban, Erwin yang waktu itu hanya sendiri di Rumah, lalu bertindak cepat, dan pergi ke Kantor Polisi.
Ayah Doni yang sampai detik ini masih tidak percaya bahwa Doni yang telah membunuh Orang yang selama ini hidup berdampingan dengannya selama kurang lebih 16 tahun lamanya, masih terngaing di kepalaErwin mengenai apa yang melatar belakangi pembunuhan ini, ditambah lagi pembunuhan ini dilakukan oleh seoang bocah 14 tahun yaitu Doni anaknya sendiri, memang sudah lama Erwin putus kontak dengan Orang itu tentunya sejak kejadian waktu itu, sebuah pilihan yang memang terkesan egois, tapi ini adalah pilihan hidup, dan tentunya ini memang logis pikir Erwin, tapi melihat Ia dengan kondisi mengenaskan sekarang ini, membuatnya sedih, terbujur kaku dengan luka bacokan di sekujur tubuhnya.
Erwin yang sudah memiliki nama di Dunia politik, tentu banyak orang yang mengenalnya, apa lagi Ia dengan reputasinya di masyarakat, Erwin adalah seorang Politikus sekaligus Pengusaha sukses yang sudah banyak mendirikan perusahaan yang tersebar di daerah-daerah lain, selain itu Ia juga terkenal karena kemurahan hatinya, Ia banyak membantu anak-anak yang putus sekolah, para pengangguran, dan membangun sebuah panti asuhan bagi anak yatim piatu.
karena demi nama baiknya, juga demi keluaga kecil yang sangat dicintainya itu Ia harus melakukan apapun demi melindunginya, mungkin karena kecintaanya ini Ia telah buta, dan berusaha menyembunyikan Bangkai busuk di belakang matanya, dan tanpa berpikir panjang, sebelum para wartawan datang dan mengonfirmasi apa yang terjadi, Ia melakukan negoisasi dengan petugas Polisi yang bersangkutan, dan akhirnya di dapatkan kesepakatan.
“tenang saja pak ceknya akan segera Saya kirim dan tentang mayat itu Saya serahkan semuanya kepada bapak, Saya tinggal terima beres, dan satu lagi semua wartawan pasti akan datang katakanlah kasus ini sebagai sebuah kecelakaan bukan pembunuhan, begitupun dengan seorang saksi yang pertama kali melihat mayat tersebut” jelas Erwin dengan tampang serius.lalu bergegas pergi.
Di tangah perjalanan pulang Sambil melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 05.45, artinya Erwin sudah seharian penuh di Kantor Polisi.
“Doni kenapa makannya selalu sedikit” sahut Erwin dengan nada khawatir.
“enggak apa-apa pa”jawab Doni murung
Masih terngiang di kepala Erwin mengenai kegelisahan Doni selama beberapa hari ini akhirnya terjawab, sambil meremas-remas stir mobil yang sedang Ia kemudikan, Ia berpikir keras, bagaimana cara agar Anak yang sangat di Cintainya bisa melupakan kejadian mengerikan itu. Untuk itu Erwin tidak akan bertanya, mengapa, ataupun mengungkap kejadian itu kepada Doni maupun Anita istrinya, meskipun rasa penasaran itu akan menghantui Erwin di setiap saat.
Mobil Avansa putih yang di kemudikan Erwin tampak mengarah masuk ke Rumah, Anita yang sejak dari tadi sepertinya sudah ada di depan teras Rumah sambil menggenggam Hp yang Ia remas-remas, terlihat dari raut mukanya Ia tengah Khawatir karena sejak Ia pulang bekerja suaminya sudah tidak ada rumah, seketika itu juga langsung menghampiri Erwin yang masih berada di dalam Mobil.
“Papa darimana saja sih, kok HP-nya tidak aktif-aktif ?
“mmm?” Erwin yang tidak mengantisispasi pertanyaan itu sebelumnya terlihat celingukan.
“ya papa dari itu, itu yang di rumahnya Pak Antoni yang pelihara burung itu” jawab Erwin dengan canggung, Ia memang seorang pecinta burung tak heran banyak sangkar burung bertengger didepan rumahnya.
“HP Papa juga lobet” sergah Erwin lagi
Tatapan Anita yang masih Nampak menyelidik, tampak mencurigai sesuatu yang aneh dari Erwin, tapi karena tidak ingin memperpanjang pembicaraan Anita hanya mendesah berusaha meyakinkan diri.
“lain kali Papa kasih kabar dong” sahut Anita yang berusaha menyudahi pembicaraan.
“iya iya, Doni mana ma?” 
“Di dalam kamarnya, mungkin lagi belajar” jawab Anita lalu berbalik masuk ke dalam rumah.
“hemm Ya” sambil mengangkat kedua tangan, Erwin merenggangkan tubuhnya yang Nampak sudah sangat kelelahan, lalu berjalan masuk kedalam rumah mengikuti istrinya yang berada didepannya.
~ ~ ~
 Erwin sudah menduga ini pasti akan terjadi, melihat istrinya tertegun di kuris teras seperti itu, membuatnya menjadi khawatir, Anita yang menyadari kehadiran Erwin di pintu tiba-tiba berbalik.
“apa Papa sudah tau hal ini ?” sahut anita spontan, seketika itu juga Anita meneteskan air mata, dan itu membuat Erwin sedikit kebingungan.
Ini kan sudah beberapa tahun berlalu, ah mungkin karna dia seorang wanita.
pikir Erwin yang tak terlalu memusingkan itu, tapi itu memang agak sedikit aneh.
“Ya, Papa Cuma nggak mau mama mengingat kejadian itu, dan ini juga diluar perkiraan Kita semua, bahwa Kita akan bertemu dengannya di saat Ia sudah meninggal”
Dengan masih berlinang air mata, Anita tiba-tiba bangkit, lalu masuk ke kedalam rumah, tapi belum sempat Anita melewati Erwin.
“Oh ya pa, apa pakain Papa sudah siap?
“belum, masih ada yang belum Aku setrika” jawab Erwin spontan
“nanti Mama yang bereskan” lalu berjalan masuk melewati Erwin yang masih berdiri di Pintu
Melihat Anita pergi meninggalkan Koran yang Ia telah baca membuat Erwin merasa sedikit bersalahkepadanya, seharusnya Ia memberitahukannya lebih awal tentang kejadian ini.
Apa yang dianggap Erwin selama ini sebagai keputusan yang benar terkadang hanyalah kebenaran sementara yang pada tempat, kondisi ataupun waktu yang tidak tepatakan berubah dan tergantikan oleh kebenaran lainnya yang pada hakikat sebenarnya adalah berbeda, hanya saja manusia sebagai mahluk sosial, yang tentu punya rasa simpati cenderung menjadikan perasaan sebagai landasan untuk berpikir dan bertindak semaunya layaknya sebuah cinta, cinta adalah fitrah yang tumbuh di setiap hati seseorang, tak terkecuali Erwin yang sangat mencintai keluarganya, tapi karena kecintaannya yang sangat besar membuatnya buta, dan mengungkung dirinya sendiri, payung yang Ia gunakan terkadang sangatlah besar untuk menutupi keluarga kecilnya, tapi tampa Ia sadari ada banyak lubang pada payung tersebut.
Sembari melihat Koran yang sudah berpindah di tangannya, Erwin yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri, tak menyadari kehadiran Doni yang sudah berada disampinnya.
“kenapa Pa, kok bengong begitu” Tanya Doni tiba-tiba
Erwin yang merasa terkejut, lalu buru-buru melipat Koran yang sejak dari tadi yang Ia pandangi.
“umm tidak, Ayah hanya….”
Tiba-tiba Erwin berhenti sejenak, Terlintas dipikirannya agar memberitahukanDoni lebih awal, Akan lebih baik jika Doni tau bahwa Pembunuhan yang telah dilakukannya itu, bukanlah berita mengenai pembunuhan tapi sebuah kecelakaan.
“oh Iya ini Don” sambil memperlihatkan Koran itu pada Doni
“papa baru saja baca Koran, coba kamu lihat deh, katanya baru-baru ini terjadi sebuah kecelakaan dan karena kurang hati-hati saat menggunakan alat pemotong rumput, besi pemotong yang terbentur batu besar itu tiba-tiba terlepas dan mengenai leher korban” jelas Erwin sambil meihat Doni yang tercengang
 “apa Papa tau Orang ini ?” Tanya Doni yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sebuah berita kecelakaan bukan Pembunuhan
“umm? ya tidaklah, jika papa tau Pasti Aku sudah memberitahukan mu lebih awal” jawab Erwin sambil menjaga raut mukanya agar tetap santai, seperti benar-benar tidak mengenal tentang orang itu.
“Papa mau siap-siap dulu, Pesawatnya akan berangkat pukul 04.00 jadi Papa harus bergegas” Erwin lalu beranjak mendahului Doni.
“Papa di Bali hanya empat hari” sahut Erwin lagi, menoleh ke Doni dengan tersenyum.
Erwin sebenarnya agak berat untuk meninggalkan Doni dan Anita di saat kondisi seperti ini, ditambah Anita yang tidak tahu mengenai apa yang telah terjadi pada Doni, tapi karena tuntutan pekerjaan mengharuskan Erwin meninggalkan keluarga kecil yang sangat di Cintainya.

~ ~ ~
Diluar jendela Pesawat, terlihat hamparan awan hitam tebal dengan kilatan petir yang menyambar dimana-mana, kilatan petir itu seolah-olah datang menghujam pas di kepala erwin, tapi sepertinya tidak itu hanya pendar kilatan petir dimatanya, Diatas pesawat Erwin yang belum bisa tidur telah membulatkan tekad, untuk selalu meluangkan waktunya bersama Doni, mungkin karena kurangnya perhatian dan pengawasan yang diberikan Erwin, membuat Doni seperti sekarang ini, Erwin telah berjanji pada dirinya setelah Ia menyelasaikan pekerjaanya di Bali, Ia akan mengajak Doni dan Anita untuk pergi berlibur, mungkin dengan sedikit liburan dapat mengembalikan kondisi mental Doni, ini juga cara Erwin bisa mengembalikan kondisi Doni seperti semula, meski tidak mungkin semua, tentu btuh waktu yang cukup lama, Ia tidak ingin masa muda anaknya hancur akibat kejadian yang menimpanya itu, meski selalu saja terpikir oleh Erwin mengenai kenapa anaknya bisa berbuat sesuatu yang keji seperti itu, tapi Ewin berusaha untuk tidak ingin menyelediki hal itu, Ia tidak ngin masalah ini bertambah rumit dan panjang, lagipula Ia memang sudah tidak berhubungan baik dengan Orang itu, Ia hanya ingin Doni kembali seperti sedia kala, menjadi anak yang riang, dan tidak menutup diri lagi, mungkin karena masalah ini juga yang membuat nilai Doni beberapa pekan terakhir ini menjadi anjlok, padahal Ia adalah anak cerdas dan sering mendapat peringkat di Kelasnya. Sekarang Ia sudah semester dua kelas delapan di SMP 20 Kaliantang, dan sebentar lagi Ia akan ujian semester untuk penaikan kelas. Tentu Erwin harus berusaha keras untuk mengembalikan kodisi mental Doni yang sekarang ini sedang terpuruk.
Dan tentu Perjuangan yang akan dilakukan Erwin ini tak semuda mengirup udara segar di pagi hari, mengangakat tangan sejauh mungkin  sambil berjinjit sampai merasakan otot-otot tubuh yang merenggang, sembari merasakan deru nafas nikmat yang keluar dari dalam tubuh dengan mata terpejam, yang dalam sepersekian detik saja, membuat jiwa terasa melayang jauh melintasi ruang dan waktu, melihat panorama Indah dunia ataupun surga yang didamba-dambakan setiap umat manusia yang katanya hanya bisa didapatkan jika tubuh telah mati, dan jiwa telah pergi, itupun kalau beruntung.
sebuah tebing yang jika dilihat dari bawah keatas Nampak seperti hamparan hijau lapangan golf dengan kemiringan Sembilan puluh derajat yang menjulang tinggi ke angkasa, yang di tengah-tengahnya terdapat Air terjun yang tampak juga seperti seekor ular putih raksasa yang memanjang dengan sisik-sisik putihnya yang berkilauan akibat cahaya matahari dan beterbangan sampai-sampai menimbulkan bias yang menciptakan sebuah panorama warna melengkung yang saling menumpuk tapi tidak saling mengacau ataupun berusaha untuk menjadikan warna miliknya lebih menonjol dari yang lain sehingga tanpa disadari akan menutupi ataupun menghilangkan warna yang lain yang lebih kecil darinya, tapi tentu itu tidak akan pernah terjadi, semua terlihat begitu harmonis, rukundan damai, dan sangat menghormati perbedaan diantara mereka, mungkin mereka lebih mengenal tentang apa arti cinta yang sebenarnya. Perjalanan hidup begitu panjang dan penuh liku, semua bisa saja mempunyai tujuan, ataupun recana tapi taka da yang pernah tau terkadang perjalanan hidup terhenti akibat tersandung batu kecil yang bisa saja membuat kita terluka parah, atupun debu yang beterbangan yang menyapu jarak pandang yang terkadang tampa disadari kita telah berjalan menuju ujung jurang, tak ada yang tau hidup akan berakhir seperti apa, tapi setidaknya dengan usaha dengan kerja keras lah yang akan mungkin menentukan, ya itu kata-kata yang terdengar dari salah satu siaran televisi yang menggambarakan bahwa sebenarnya hidup bahagia itu simple, berpikir postiv, bergaul dengan lingkungan yang sehat, artinya pilih-pilih teman, dan masih banyak lagi, semabri berpikir motivator tersebut telah menemukan kebahagian sejatinya, mungkin? Entahlah,kemudian tentang diam,hemm… diam adalah emas hanyalah ditempatkan dalam suatu kesempitan yang tentu dalam kondisi yang berbeda.
Ya layaknya Orang-orang pada umumnya yang telah terpengaruh oleh teknologi, Erwin juga tidak ketinggalan akan hal ini, Erwin yang dalam kehidupannya tidak bisa terlepas dari yang namanya internet harus senantiasa mencari informasi mengenai perkebangan pasar Dunia, karena ini akan sangat berpengaruh bagi perkembangan bisnisnya. Dan tidak hanya itu, Erwin yang saat ini sedang berkutat dengan problematika hidup yang dihadapi keluarganya, khusunya anaknya Doni, berusaha mencari-cari informasi yang tentu menyangkut mengenai masalah yang dihadapi Doni dan cara mengembalikannya.
Sesampainya di Bali tepatnya dikamar hotel, Erwin yang masih sibuk dengan laptopnya tampak begitu serius, dan menghiraukan rasa lelahnya setelah berjam-jam di atas pesawat, Ia tengah membaca beberapa artikel di internet mengenai perilaku-perilaku meyimpang yang umum dilakukan oleh remaja tapi hanya sedikit yang menampilakan mengenai perilaku menyimpang yang berhubungan dengan kasus pembunuhan, Erwin hanya fokus pada penanganannya, dan  sambil mencatat beberapa poin penting  yang dianggapnya berguna suatu saat nanti.
beberapa jam berlalu akhirnya dengan wajah yakin, tapi tetap waspada, sembari memandangi beberapa lembar kertas yang telah iya tuliskan, Ia merasa telah siap dan berusaha meyakinkan diri dengan apa yang Ia lakukan nanti.   



















3
2 tahun kemudian
Dibawah hempasan debu dan terik matahari yang membara, juga sendunya hujan pembawa berkah, atau bisa saja bencana,selalu saja ada cerita mengenai luka yang senantiasa di tempa dan di aminkan, bukan sebuah penyiksaan ataupun kekejaman tirani juga bukan sebuah penghakiman atas kehilafan atupun kesengajaan  yang harus diadili yang sekonyong-konyongnya dikatakan sebagai tindak keadilan oleh hakim penentu kebijakan, dengan harapan akan timbul efek jera yang akan menghasilkan sebuah ketakutan bukannya kesadaraan yang lahir dari batin lugu yang masih kanak-kanak.
Ini hanya mengenai penggambaran hidup kedepan yang mengajarkan bahwa perjalanan  hidup tidak selamanya mulus, juga tak selamanya kejam, pahit, manis, hambar, selalu saja ada,  tapi hanya cara menyikapai, dan cara pandang yang akan menentukan dimana hidup akan berakhir.
Meskipun katanya ini hanya  replika penggambaran hidup kedepan, yang inti sebenarnya merupakan gerbang masuk yang akan dilewati melalui proses yang telah disusun secara sistematis ataupun tidak, karena masih banyak bagian yang belum terjamah oleh pikiran dan juga masih minimnya pengetahuan, akibat kuranya proses belajar yang dilewati atau lebih tepatnya dicari, evaluasi, dan masih banyak lagi. 
~~~
Hari yang awalnya Cuma sehari entah kenapa terasa bagai setahun, tentu setahun bagi mereka, tapi sejam bagi mereka pula, ya meraka yang berbeda.
Peluh yang terus bercucuran tidak menghambat semangat para pejuang di tengahPanasnya terik matahari yang terasa membakar kulit, juga debu yang sesekali menyapu mata, suara teriakan pontang panting lalu lalang, masuk telinga kiri dan kanan, sekaligus olahraga jantung mungkin, tapi tenang saja semua peserta yang mempunyai riwayat penyakit tidak diperbolehkan ikut, dan akan mengikuti diksar khusus yang tentu saja berbeda, meski selalu saja ada diantara mereka, saat ditengah-tengah pendiksaran jatuh pingsan, bahkan sakit perut entah kenapa. Memang proses penyeleksian untuk menjadi panitia pengkanderan tidak terlalu ketat karena dari sekian banyak pengurus dan anggota yang bergabung hanya beberapa yang aktif itu pun terkadang tidak semua pengurus dan anggota yang aktif juga serius. dan tentu saja harus dibutuhkan banyak panitia dalam acara pendikasaran ini.
Dari luar sekolah para peserta sudah berlarian menuju gerbang sekolah, waktu memang sudah menujukkan pukul 01.55 artiya lima menit lagi sebelum acara pembukaan dimulai, dan tentu saja siapa pun yang terlambat baik panitia, lebih-lebih peserta akan mendapat hukuman, didepan gerbang sudah ada orang yang berpakaian preman dengan sebilah bambu di tangannya, juga masker hitam yang menutupi wajahnya, dengan mata tajam melotot yang untung saja tidak membuat bola matanya keluar, Ia sudah seperti algojo yang siap beraksi kapan saja.
“hei kau yang dibelakang jongkok-jongkok! Woi cepat-cepat!” suaranya yang parau sudah terdengar tidak jelas lagi, bagaimana tidak, sudah sejak tadi kerja mereka hanya berteriak-teriak terus, mungkin karena memang begitu tugasnya.
“kau turun dari motor, cepat!, dorong-dorong!
Sahut algojo yang lainnya yang tidak kalah sangar juga
“woi itu motormu rapikan!, main tinggal saja, kau kira ini parkiran nenek moyang mu apa?
Bentaknya lagi, dengan gaya bicara komat kamit seperti sedang membaca mantera, sepertinya Ia sudah banyak memakan asam garam dunia, demo sana sini, meneriakkan ketidak adilan yang tak kunjung padam di Negeri ini. 
Setelah waktu menjukkan pukul 02.00, peserta segera diarak untuk berbaris dilapangan yang di pimpin oleh korlap, ini adalah hari kedua Pendiksaran setelah hari sebelumnya telah diadakan acara pembukaan, berupa sambutan Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Mekar Sari, Ketua umum terdahulu, Pembina, dan persembahan dan seusai Pembukaan dilanjut mengenai penjelasan mekanisme pendiksaraan dan alat-alat yang akan dibawa oleh Peserta, juga Peserta telah dibagi mejadi beberapa kelompok yang mempunyai nama khusus masing-masing juga beberapa aturan dan beberapa basabasi dari senior lainya.
Semua rangkaian Pendiksaran ini berlangsung selama 4 hari, dan setiap peserta yang ingin bergabung wajib mengikuti semua rangkaian diksar mulai dari hari pembukaan sampai penutupan.
Di Hari terakhir Pendiksaran, Semua Peserta yang masih bertahan dan lolos, masih akan berjuang untuk melewati puncak sekaligus Gerbang akhir dan memastikan diri menjadi bagian dari salah satu anggota yang terpilih, dan telah melewati proses seleksi alam seperti yang dikatakan oleh seseorang Pria bertampang sangar, tubuh besar dengan perut yang agak membuncit seperti sedang hamil 1 bulan, juga kumis dan sedikit berewok yang menutupi wajahnya, tapi tegas dan terlihat berwibawa, juga pandai bersosialisasi sehingga banyak orang yang mudah akrab dengannya, itulah mengapa Ia dipilih menjadi Ketua Panitia pendiksaran ini, Leon anandito Anugerah akrab di panggil Leon atau dengan julukan barunya Pak Kumis sebutan bagi sebagian Peserta yang telah menjadi boneka kugutZunya1.
“kau yang berempat kemari !
Sambil menunjuk diri masing-masing, dengan wajah khawatir yang sedikit was-was karena mereka bisa saja menjadi santapan leZat untuk hidangan pembuka hari ini.
Dan benar saja dengan sorot mata tajam dan satu kali gerakan alis keatas itu sudah menjadi sebuah kepastian yang mengatakan “tentu saja” 
Serentak mereka buru-buru berlalu dan telah berada didepan Leon, terlihat sambaran petir yang bertalu-talu di belakangnya, pakaiannya telah berubah menjadi sebuah daster putih memanjang menutupi kedua kakinya, juga sayap putih bersih mengkilap mengembang yang sungguh sangat menyilaukan, membuat siapa saja yang melihatnya akan terkagum-kagum karena auranya yang luar biasa, dan lingkaran putih diatas kepalanya menambah kepastian bahwa ia adalah seorang malai…..tunggu dulu ada yang aneh tampak dengan jelas taring dengan berlumuran darah yang terlihat masih segar dengan senyum mengerikan dengan tatapan yang sangat tajam bagaikan leser mata superman yang bisa menembus apa saja.
“iya kak”
Sahut salah satu diantara mereka dan ketiganya seperti masih terhipnotis kaku layaknya mayat berjalan dengan wajah pucat sedang menanti hari pembalasan.
“mmm kalian tahu monyet”
“iya kak, Tahu” dengan serentak tapi tanpa semangat mereka mengiyakan.
“ya tahulah masa saudara sendiri tidak kenal” sahut Leon lagi dengan senyum-senyum mengerikan.
“Seperti ini, kalian lihatkan di sepanjang lapangan ini ada beberapa kelompok, nah tugas kalian adalah datangi satu persatu dan setiap kelompok yang kalian datangi saya beri waktu masing-masing satu menit untuk memperagakan dan harus kocak, bagaimana monyet beraksi, tahu maksud saya?”
“iya kak” sahut mereka lagi dengan pasrah
“ini akan menjadi hari paling berharga kalian, dan ingat kalian harus menghibur mereka, jika sampai ada yang tidak ketawa saya akan hukum, kalian lihatkan kemarin hukumuan apa yang Saya berikan bagi mereka yang tidak  memperhatikan saya dengan baik-baik”melihat kejadian kemarin, membuat mereka menelan air liur dan dengan serentak
“Siap kak”
“nah begitu dong, semangat yang bagus” timpal Leon yang tahu bahwa itu hanyalah semangat yang di buat-buat yang akan membawa mereka ke lubang Neraka yang cukup panas. dibanding satu menit, ini akan seperti setahun bagi mereka.
“ya kau maju kedepan nah perlihatkan kepada teman-temanmu bagaimana Pose monyet yang baik dan benar”
“huff” desahan napasnya semakin memastikan dan dengan berusaha meyakinkan diri bahwa sepertinya tidak ada lagi harapan untuk bisa terbebas dari cengkraman Leon dan tentu saja ini bukanlah sebuah mimpi, ini benar-benar nyata.
dengan sedikit menekuk kedua lutut, tangan kanan diatas kepala, tangan kiri dibawah pantat, yang terlihat dari belakang seperti huruf S.
“mantap, matanya coba agak melotot, bibir di monyongkan, suara monyet bagaimana?” tentu itu pertanyaan yang agak memaksa, sembari menahan tawa, Leon terus saja mengerjai Mereka.
“huhuhahahaha, ikikihuhuhhaa”
“ya kalian sudah lihatkan bagaimana monyet yang sebenarnya?, nah sekarang kalian berempat lari secepat mungkin dan dengan Pose dan suara yang sama harus kalian peragakan, dan kalian harus selesai selama 4 menit!, dan ingat jika ada di antara mereka yang tidak tertawa……”
Dan lagi-lagi aura itu, sungguh mengerikan
“setelah hitungan ketiga, kalian harus berlari secepat mungkin, Tiga!” teriak Leon tiba-tiba
setelah melakukan hal yang paling memalukaan itu, beberapa peserta yang lewat di depan mereka yang lagi beristirahat, terlihat senyum-senyum menyindir, dan itu menjadi pukulan telak bagi Mereka.
“Dasar sialan!, gue potong tuh kumisnya” 
“perut udah buncit lagi, dasar pak kumis” hardik Andi memberi julukan kepada Leon.
“haha cocok tuh, Pak Kumis” yang lain mengiyakan 
“kok yang lain pada senyum-senyum ke kita sih?
“jelaslah goblok emang lo lupa apa?, dengan apa yang terjadi dengan kita”
“haha Iya yah”
“kok lo ketawa sih?, lucu emang, sangking lucunya lo ketawain diri lo Sendiri”
“nggak? Sebenarnya kak Leon itu Saudara Aku, dia itu baik kok”
Sontak mereka bertiga Mentapnya dengan keheranan sembari berusaha untuk tidak percaya dan meyakinkan diri,mana mungkin bocah selugu Dito bersaudara dengan Leon yang seperti tidak memiliki jiwa itu.
Masih dalam suasana yang mengejutkan itu, tiba-tiba datang seorang Wanita mungil dengan wajah tirus yang siapa saja yang melihatnya akan terpesona karena kecantikannya, Ia juga merupakan salah satu Panitia, lebih tepatnya Sekretaris Panitia dialah Hadin Ayumustika.
“huss!......” tegur Dito kepada ke Tiga teman barunya 
“apa?”
“Kak Hadin tuh?”
“hemm lagi gosipin Leon ya?” sahut Hadin yang sudah berdiri didepan Mereka berempat.
“ng…nggak ko..”belum sempat melanjutkan, Hadin tiba-tiba memotong
“Iyaiya Dion emang kayak gitu kok” sambil menatap Dito dalam-dalam, seolah-olah membenarkan bahwa Leon memang tidak memiliki Jiwa
“Iya kak?” timpal Andi tiba-tiba, Sumpah emang ada ya orang sejahat dia, batin Andi membenarkan.
“Jadi kak Leon itu benar-benar jahat ya kak?” tidak seperti sebelumya, saat Pertama kali mengomentari Kumis Leon, sepertinya untuk yang satu ini Anwar benar-benar kecoplosan, Ia baru tersadar bahwa Dito disampingnya.
Dengan gerakan cepat, Jono yang sedari tadi Cuma mengiyakan perkataan mereka bertiga mencolek anwar.
“hey” dengan mata terbelalak
“iyaiya sorry sorry”
“hahah kalian ini ini kan sudah hari ketiga? Jangan menyerah dong, dulu waktu saya yang di diksar itu malah lebih parah kali, tapi yakin deh apa yang semua Kaka kalian berikan itu pasti ada manfaatnya” meski tidak semua, sahut Hadin dalam hati, yang tampak menyesal karena belum bisa berbuat maksimal.
“Manfaat kak?” Tanya Andi lagi yang semakin kebingungan 
“Hemm…..”sambil bergumam tidak jelas Hadin tersenyum
“aku Pergi dulu yah” sahut Hadin lagi yang sekali lagi menatap Dito dengan tersenyum.
Dibanding teman-temannya yang masih kebingungan, Dito yang lebih cerdas dari mereka bertiga tampak sudah mengerti tentangmaksud dari Perkataan Hadin tadi, juga hari hari-hari Pendikasaran sebelumnya, juga mengenai perkataan kakanya Leon sebelumnya.
“disini mental kalian akan dibentuk, kalian akan merasakan suka duka melawati semua proses ini, Pahit, Manis, asam hambar akan kalian rasakan semua, selamat Berjuang” 
~ ~ ~
“Bu ini laporannya, didalam sudah ada SK Panitia, absen Peserta dan Panitia selama 4 hari Pendiksaran, juga sudah ada dokumentasi kegiatannya Bu”
“Oh Iya Don terima kasih nak, Ibu segera akan laporkan, kamu sudah stempel kan?”
“Iya Bu semuanya sudah lengkap” setelahnya Doni cepat-cepat berlalu sebelum Ibu Eni menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
Dan benar saja baru beberapa langkah menjauh dari ibu Eni Doni telah mendapat panggilan lagi
“Don ini masih ada yang belum kamu tanda tangan nih”
Benar saja Ia hanya sibuk meminta tanda tangan Panitia lain dan lupa bahwa Ia sendiri adalah Panitia, Ia juga  selaku Sekretaris umum yang harus mengurusi segala yang berhubungan dengan adminstrasi dan Kesekretariatan, Sekretaris adalah jantung dari sebuah Organisasi, dan peran  sekretaris sangatlah penting  dalam jalannya sebuah Organisasi.
Setelah selesai mendatangi beberapa lembar berkas, Doni sesegera mungkin pergi menuju Kelasnya.Kelas yang tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Ia akan berada ditempat itu, Ia adalah Siswa kelas XI.Bahasa 3, atau menjadi kelas terakhir yang dianggap oleh sebagaian Siswa sebagai kelas pembuangan mungkin butuh waktu dua bulan bagi Doni dan sebagian teman-temannya menerima kenyataan ini kecuali Mereka yang entah Pikiran darimana bisa menjadikan Jurusan ini sebagai pilihan Pertama, di SMA Negeri 5 Mekar Sari terdapat Tiga Jurusan, yaitu Bahasa, Jurusan IPS, dan yang terakhir jurusan yang manjadi favorit setiap Siwa yang ingin bersekolah disini yaitu Jurusan IPA, setiap jurusan masing-masing memiliki julukan, IPA tentu jurusan untuk kaum intelektual dan hanya yang beruntung bisa memasukinya, IPS Jurusan Pemberontak, atau kumpulan anak-anak nakal yang sebagian kerjanya Cuma bolos, dan kenakalan-kenakalan lainnya yang terkadang membuat guru-guru jengkel dan seringkali menghukum mereka, entah kenapa mereka yang merasa sok jago harus memasuki Jurusan IPS,sepertinya kebiasaan ini sudah membudaya dari tahun ke tahun, jurusan ini dianggap sedikit lebih diatas dibanding dengan jurusan bahasa karena disamping Jurusan ini sudah lama ada, juga karena dari dulu hanya ada dua jurusan yang dikenal yaitu jurusan IPA dan IPS,kemudian Bahasa adalah jurusan yang baru muncul dua tahun lalu di Sekolah ini, meski Jurusan ini sebenarnya sudah lama ada yaitu pada tahun 2001 tapi setelahnya tidak lagi, dan baru muncul pada tahun 2011, dan dianggap sebagai Jurusan Pembuangan atau lebih tepatnya mereka yang tidak termasuk kaum intelektual dan pemberontak artinya tidak keduanya akan masuk Jurusan Bahasa di mana semuanya terasa hampa, sebagian Orang-orang yang berada di Jurusan itu seolah-olah bagai mayat berjalan yang tidak memiliki tujuan yang jelas, raut muka datar dengan tatapan kosong dan segala hal yang berhubungan dengan kehampaan, seperti mereka tidak memiliki hasrat maupun Jiwa tapi ada juga sebagian dari Mereka malah lebih senang berada di Jurusan itu selain karena untuk menghindari Pelajaran yang tidak disukai, di Jurusan Bahasa juga tidak seketat Jurusan IPA yang harus senantiasa mengerjakan tugas Sekolah, maupun tugas rumah yang menumpuk, ditambah terkadang dalam seminggu tidak semua Guru mata Pelajaran akan masuk, entah kenapa, mungkin karena sedang sibuk, ada urusan, sakit, malas, cuaca, dan bermacam alasan lainnya, tapi sungguh suatu keheranan kenapa hanya kelas bahasa saja yang seperti itu. 
Tentu dengan adanya pikiran-pikiran itu sangat mempengaruhi para Siswa yang ingin menuntut ilmu, entah Doktrin mengenai pendapat-pendapat keliru mengenai Jurusan-jurusan itu berasal darimana, tentu Doktrin ini menimbulkan budaya ikut-ikutan yang akan berdampak buruk bagi masa depan para Siswa, contohnya saja salah satu Senior Doni yang dulunya berada di Jurusan IPA, kini lebih milih mata kuliah Sastra dan menjalani aktivitas kesehariannya menjadi seorang Penulis, dan pernah sekali waktu Doni berbincang-bincang dengan Seniornya itu.
“Saya pernah berpikir apa gunanya Saya berada di Jurusan IPA selama tiga tahun lamanya dan akhir-akhirnya di Perkuliahan Saya menemukan jati diri saya bahwa saya lebih cocok dengan Jurusan Bahasa, yaitu Sastra Indonesia, ya meski pada tahun itu belum ada Jurusan Bahasa, tapi meskipun ada Saya tetap memilih Jurusan IPA karena melihat semua Teman Saya pasti memilih jurusan itu, meski itu tidak akan menjadi Patokan bahwa Mereka akan benar-benar Suka dengan apa yang mereka telah pilih, Mereka yang tidak suka perhitungan , seperti Fisika, tiga kali Pertemuan Matematika, tentu akan menyiksa Mereka yang benar-benar tidak suka Perhitungan, dan terus menjalani kegiatan rutin itu dengan tidak senang hati dan malah menyiksa diri, Mungkin hanya karena ingin dianggap berada di Jurusan IPA artinya termasuk dalam golongan orang-orang intelektual pikir Mereka yang keliru, dan tentu Ia yang lebih memilih Jurusan bahasa termasuk orang-orang yang cerdas karena menyadari bakat dan Potensinya berada pada Jurusan itu, atau berusaha mengindari Mata pelajaran yang mereka tidak sukai dan merasa tidak memiliki Potensi untuk hal itu, seperti tiga kali pertemuan matematika dan Fisika yang kebanyakan menggunakan Perhitungan yang sebagian besar Siwa tidak sukai, dan orang-orang yang berpikiran seperti itu termasuk cerdas dalam memilih jurusan dan tidak akan menyesal dikemudian hari, juga tidak ikut-ikutan ke teman-temannya yang lebih memilih Jurusan IPA tanpa mempertimbangkan apa kah Ia pantas untuk berda di Jurusan itu atau tidak.
Setelah mendengar Penjelasan Seniornya waktu itu, membuat Doni sedikit merasa lega, karena sejak dari SD sampai sekarang memang Ia tidak suka mata pelajaran Matematika dan semua yang berhubungan mengenai Perhitungan. Meski masih selalu saja ada rasa yang mengganjal di hati Doni, karena dari semua teman Sekelasnya sewaktu SMP hanya Ia yang terdampar di Jurusan Bahasa entah mengapa, tapi Ia tahu itu hanya Pikiran Bodoh yang akan menghambatnya saja, dan berusaha meyakinkan diri bahwa ini akan cepat berlalu dan kemudian menjalaninya dengan sepenuh hati.
Banyak pandangan-pandangan baru yang mulai mengubah pola pikir Doni, ditambah setelah Ia bergabung dengan salah satu Organisasi di sekolahnya dan menjadi bagian dari Pengurus Inti Organisasi tersebut, berbeda dengan OSIS dan MPK, Organisasi yang dimasuki Doni tersebut adalah Organisasi yang berbasis Seni yang bernama Bengkel Seni atau yang biasa di singkat BES, dan entah kenapa Doni bisa terjebak dalam Organisasi ini, Organisasi yang berbasis Seni, dan tentu itu sangat aneh dari bagi seseorang sepertinya, yang tak memiliki bakat pada Seni, tapi hanya kerena Iamerasa nyaman berada diantara teman-teman yang Ia sudah anggap sebagai Sudara sendiri itu, sehingga membuatnya selalu bertahan di Oranisasi itu, juga ditambah oleh Pembinanya yang sangat baik tapi tegas yang seringkali menjadi motivator di Sekolahnya tersebut, dialah Wardi Daeng Makkulle atau MR.One julukan khusus dari Siswa-siwanya, Seorang Guru bahasa Jerman yang memiliki gaya mengajar yang unik, yang cenderung lebih banyak mendidik, dibanding mengajar, karena baginya hal yang harus diutamakan dari seorang Siswa adalah karakter, sambil memaparkan sebuah contoh bahwa betapa boroknya Negeri ini, banyak orang di Indonesia yang pintar tapi kerjanya Cuma Korupsi, dan menghabiskan uang rakyat, memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan sendiri.
Hanya karena waktu itu Teman sekelasnya Ardi mengambilkannya Formulir Pendaftaran BES, dan mengompor-ngomporinya untuk ikut bergabung dalam Organisasi ini dan mengatakan dengan bangganya bahwa Organisasi ini sangat keren dan seolah-olah dia telah tergabung didalamnya.
“masuk aja, Organisasinya keren kok, bahkan didalam ada gitar loh” dan dengan tatapan Doni yang agak merendahkan Temannya itu yangmenganggap bahwa itu hanyalahsebuah pernyataan umum yang biasa sekali, dan mungkin Organisasi manapun yang berbasis Seni pasti memiliki alat yang bernama Gitar itu.
“hemmm waow itu sangat keren” sahutnya pelan, dengan nada suara yang tidak semenarik isi peryataan yang Ia ucapkan
“iya iya, sini”seraya mengambil Formulir yang sedari tadi diajukan Ardi.
“kamu ambil juga kan Formulirnya?
“jelas lah”
“emang kamu tau dari mana kalau Organisasi ini keren?”
“Dari temanku”
“owwjadi Dia salah satu anggota Organisasi ini?”
“nggak kok, Dia seangkatan dengan kita, Dodit namanya yang kelas X.IPS 1 itu”
Dan untuk yang kedua kalinya Doni menatap temannya itu dengan muka masam, dan mulai berpikir bahwa semuanya hanyalah omong kosong belaka, yang ujung-ujung hanya bersumber dari ‘Katanya’, benar saja temannya pasti telah membingbingnya ke jalan yang seasat, pikir Doni.
“iyaiya aku juga ikut” desahnya pelan, karena tidak ingin mengecewakan temannya itu.
Dan benar saja Temannya itu telah menjatuhkannya ke dalam Jurang, dan Ia tetap berada diatas sana, diatas?, benar saja, Ia telah menghianati Doni, Ia tidak ikut Pendiksaran dan lebih memilih Kegiatan ekstrakulikuler lain yang bernama Pramuka, tapi itu tidak membuat Doni kecewa entah kenapa, ‘setiap orang punya jalan masing-masing’ pikirnya.
Hari-hari yang dilalui Doni berlangsung begitu cepat dan tak terasa kegiatan Rutin BES yang diadakan sekali dalam satu Periode kepengurusan dilaksanakan lagi yaitu Musyawarah Besar V (MUBES), dan tentu akan terjadi pergantian Pengurus lagi, dan akhirnya Leon yang terpilih Sebagai Ketua Umum BES periode 2013-2014 dan didampingi oleh Sekretarisyang sama yaitu Doni, Pemilihan ini dilakukan melalui proses aklamasi, penunjukan yang langsung di ambil alih oleh Pak Wardi selaku Pembina BES, Proses aklamasi ini memang sengaja dilakukan untuk menghindari kecemburuan antara para Pengurus baru yang ingin mencalonkan diri sebagai Ketua, juga jika dilakukan proses voting, maka akan memecah Pengurus dan anggota menjadi beberapa kubuh sesuai dengan orang yang akan di calonkannya sebagai ketua, dan akan membahayakan bagi mereka yang tidak terpilih, selain itu tentu agar menjaga reputasi Organisasi ini yang memilikki motto ‘Kebersamaan’, dan Proses Aklamasi ini di anggap sebagai cara teraman.
Setelah penetapan, dan pemberian arsip dari Pengurus lama kepada Pengurus baru yang tentu saja diwakili oleh Ketua umum terdahulu, jugaselaku senior Doni, seseorang yang berperawakan sederhana tapi penyayang dan Peduli kepada teman-teman, dan adik-adiknya, meskipun seringkali kepeduliannya disalah artikan oleh sebagian teman-temannya dan menjadikannya bahan olok-olokan untuk menggodanya dialah Alvin Sangjaya atau akrab di panggil Kak Alvin oleh adik-adik Juniornya.
Entah atas dasar apa Pak Wardi menunjuk  Doni lagi sebagai Sekretaris umum BES, dan keputusan itu memang sudah mengejutkan yang lain sejak dari awal pertama kali Ia dipilih semasa jabatan Alvin sebelumnya, disamping karena Doni adalah anak yang pendiam, cuek, tak pandai bersosialisasi, dan paling parah bahwa Ia adalah anak yang penyendiri, tentu itu sangat bertolak belakang dengan idiologi BES dan tentu Mottonya yaitu ‘Kebersamaan’, dan juga saat itu ia masih kelas IX, mungkin Penunjukan itu karena Doni dianggap cocok dengan Alvin dan dapat bekerja sama dengan baik, karena mereka berdua terlihat sangat dekat dan akrab jadi tidak heran hal ini terjadi, perubahan yang dialami Doni ini sudah tentu terjadi akibat kejadian dua tahun silam, meski kondisi mental Doni sudah membaik dan dapat beraktivitas kembali, tapi mimpi-mimpi buruk itu masih kerap kali hinggap di kepala Doni, kejadian mengerikan seperti itu tidak bisa terhilang sepenuhnya, selalu ada bekas luka yang sewaktu-waktu akan terbuka kembali.























4
Seakan senyuman itu tak pernah Padam, selalu ada getar yang terasa disetiap pertemuan itu, rasa itu memang telah lama tertanam dan perlahan tumbuh dan berkembang setiap waktunya, hanya butuh waktu dan tentu keberanian yang akan menguapkan rasa itu menjadi sebuah kata sebagai tanda Keseriusan, kata yang akan menjadi ikrar dengan embel-embel kesetian dan pengaharapan akan hadirnya sebuah lembaran baru yang termaktub dalam sebuah ikatan.
“Lama ya nunggunya?”
“hemm…nggak kok Don” sahut Hadin seraya tersenyum cerah memerah, karena sebenarnya sejak dari tadi Ia menunggu Doni, hanya saja Ia tidak ingin membuat Doni merasa bersalah.
“ok, ayo!” seraya mengajak Hadin untuk naik ke motor Doni.
Selalu ada hening yang berkepanjang, mereka sibuk memilih bahan yang cocok untuk melanjut percakapan, jangan sampai garing, tidak penting, membosankan, dan jangan sampai membuat mereka menjadi janggung.
“Apa kaki mu sudah agak baikan?” meski Doni sudah tahu bahwa Hadin sudah pulih, tapi setidaknya pertanyaan itu menunjukaan sedikit sebuah kepedulian.
“Iya lumayan”
“kamu sih nggak hati-hati, kan sudah tahu hujan, malah lari-lari, lihatkan jadi bagimana?”
“iya iya, kok malah kamu ya yang jadi bawel sih” goda Hadin seraya tertawa.
“mmm kan gara-gara kamu” balas Doni
“ihhh…..dasar-dasar ikut-ikutan” pekik Hadin dengan nada semakin menggoda Doni, akhirnya karena sifat Cerewet Hadin membuat udara disekitar mereka yang awalnya membeku, perlahan mencair.
“umm!” singkat Doni, yang merasa sudah mengalah karena Hadin mulai cerewet
“hanya itu?”
“iya iya, satu tempeng goreng, bakwan, dengan Es teh satu!” sergap Doni cepat, sambil memiringkan kepala dengan setengah memandang Hadin dengan wajah datar.
Mendengar jawaban dan ekspresi seperti itu, membuat Hadin terasa tersendak karena menahan tawanya yang tiba-tiba ingin meledak.
“oh iya GPL (nggak pakai lama) ya!”imbuhnya
“hahaha…..Kamu ada ada aja deh”
“Ndi mau nggak Kamu jadi Pacar aku?”Pertanyaan Doni yang tiba-tiba membuat Hadin tersendak untuk kedua kalinya bukan karena menahan Tawa, tapi Pertanyaan Doni yang tiba-tiba itu.
“Kamu serius Don?”
“umm serius lah, mau nggak?”
“Iya, Aku mau kok” singkat Hadin seraya membuat kedua pipinya merah merona.
meski Hadin sebenarnya sudah tahu bahwa Doni juga menyukainya, tapi Ia benar-benar tida menyangka dan seolah tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, Doni menyatakan Perasaannya kepadanya, meski pernyataan yang tidak secara langsung tapi dari Pertanyaan itu sudah tentu membuktikan perasaan Doni yang sebenarnya.
Doni hanya senyum-senyum kikuk karena merasa senang dengan jawaban Hadin.
Akibat pertanyaan Doni yang tiba-tiba itu kembali membuat Suasana kembali membeku, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, saking bahagianya mereka tak bisa berkata apa-apa, dan tak percaya ini menjadi hari Spesial untuk mereka berdua.
Tak terasa setelah hening yang berkepanjangan itu mereka akhirnya tiba di Sekolah.
Mereka pun turun, dan sesekali saling melirik malu.
“Ayo! Sudah hampir bell masuk nih” sahut Doni yang masih tersenyum kikuk
Mereka seperti sepasang boneka kayu yang digerakan melalui tali-tali yang di kontrol oleh jari-jari tangan, sungguh mereka ingin terbebas dari belenggu yang tidak menyenangkan itu.
sambil berjalan beriringan, mereka berpisah dan menuju kelas masing-masing.
“dah…..” sahut Hadin buru-buru berlalu pergi 
“Ok” timpal Doni 
 ~ ~ ~
“Kalian catat mulai dari halaman 34-40 dikumpul hari Kamis, yang tidak mengumpul catatan, Saya tidak ikutkan ulangan harian” tegas Pak Anton dengan gaya seorang diktator yang mempunyai kekuasaan mutlak, tak dapat bantah apalagi diganggu gugat. Tentu Kita sudah mengenal betul Gaya dan raut muka seorang Diktator Picisan yang selalu mengaku-ngaku berprinsip kebenaran.
“Iya Pak” serentak mereka dengan suara yang meyakinkan dan pasti, meskipun tidak bersemangat, dan penuh keluh kesah yang memaki-maki dalam batin, mereka sudah tahu ini pasti akan terjadi, kemudian mereka dengan segan melihat Pak Anton keluar dari kelas setelah memberikan Tugas yang tentu dianggap Mereka hanyalah sebuah Hukuman.
“lagi-lagi tugas” keluh salah seorang siswa Laki-laki yang duduk paling Pojok kanan depan
“haha….kayak tidak terbiasa saja kau Did” timpal teman sebangkunya yang tampak biasa-biasa saja dengan tugas yang diberikan.
“Iya sih, hufttt…..Sekolah membunuhku” sungguh pernyataan yang bisa membuat siapa saja merasa ganjil akibat Pernyataan yang menohok itu.
“ehhh siapa bilang?, mengada-ngada aja Kamu” bantah seorang Siswa laki-laki yang duduk dibelakang Dodit, yang sedari tadi sibuk mencatat sesuatu yang yang sudah tentu tidak dianggap penting oleh Dodit sendiri.
“aku juga kok, sebenarnya sudah menanyakan hal yang sama kepada Pak Dahlan, tapi katanya memang itu suatu system pembelajaran yang harus diikuti semua Siswa, juga katanya pelajaran-pelajaran yang diberikan guru-guru itu sebenarnya sudah ditakar dan wajib atau harus untuk diketahui” katanya dengan ciri khas yang meleket, ataupun sudah mendarah daging dalam tubuh dan Rohaninya, gaya layaknya seorang penceramah ulung yang handal mengolah kata, karena memang Yuka seorang belasteran Jepang dan Indonesia ini sering ikut dengan para ulama untuk melakukan Kajian agama Islam di masjid-mesjid, meskipun seringkali Ia dianggap sebagai seorang Mualaf karena tampangnya yang cenderung lebih mirip Ibunya, Yuka, yang bernama lengkap Yuka Mustafa yang memang sejak lahir, terlahir sebagai Islam dari Pernikahan Ayah dan Ibunya seorang Ibu Rumah tangga yang berpindah keyakinan setelah menjalin Cinta sehidup semati dengan Ayah Yuka, disamping karena seringnya Ia dianggap sebagai seorang Mualaf di Sekolah ini, Ia juga serig diledek Karena ketidak sesuain nama depan dan nama belakang namanya yang tentu dianggap aneh oleh temannya, olehnya itu Ia lebih sering dipanggil Oleh teman-temannya dengan sebutan Mustafa yaitu nama Ayahnya.  
Karena tidak ingin mengalah dari Yuka dodit hanya mendengus dan dengan spontan mengatakan sesuatu mengenai ketidak setujuannya akan hal itu, yang Ia anggap hanyalah sebuah Penyiksaan dan pemakasaan kehendak saja, lanjutnya itu hanyalah taktik saja bagi sebagian Guru yang malas mengajar.
Perdebatan mereka bertiga terus berlanjut selama kurang lebih sepuluh menit sampai Yuka tersadar bahwa sejak dari tadi Doni yang duduk disampingnya hanya melamun dan hanya sesekali melirik Mereka.
“nanti kalau aku jadi Presiden, banyak yang akan aku ubah dengan system pendidikan ini”
“hahahhah….Mengubah? kumpul catatan saja saja kau tak pernah tepat waktu, sekolah dulu lah kau dengan baik-baik” timpal Tibo dengan logat Papuanya yang kental sembari meledek cita-cita yang mengada-ngada dari Dodit.
“Oi…..Doni!” 
“um.....hoi kenapa?” jawab Doni dengan spontan karena teriakan Yuka yang tiba-tiba.
“mikirin apa? melamun saja kamu sejak tadi”
“barusan kau tak banyak bicara hari ini” tambah Tibo yang perhatiannya sudah teralih ke Doni
“nggak kok, Tugas yang diberikan sama pak Anton halaman berapa lagi ya?”
“kamu jelas tidak memperhatikan apa yang disampaikan Pak Anton, dari halaman 34-40” jawab Dodit
“untuk apa kamu menanyakannya, memang kamu ingin mengerjakannya?” ledek Yuka yang sudah tahu bahwa Dodit sudah tentu hanya mengabaikan tugas ataupun pelajaran yang tidak disukainya, karena iya sangat memegang teguh Prinsip “Lakukan sesuatu yang kamu sukai karena jika kamu melakakukan sesuatu yang tidak Kamu sukai, sama halanya kamu menggali kuburanmu sendiri”.
Meskipun seperti itu, nilai Doni tidak ada yang pernah menurun, karena selain cerdas dan Pandai mencari perhatian kepada Guru-guru, Iya juga dikenal sebagai anak yang sopan dan bertanggung jawab kepada teman-temannya, karena Ia juga adalah seorang Ketua kelas yang mempunyai tutur kata yang baik dan sering kali unjuk gigi didepan teman-temanya saat ada kegiatan diskusi kelompok, dan terbukti,Doni konsisten dengan peringkat kedua sampai sekarang, meskipun sudah menjadi rahasia umum Doni sangat payah dalam pelajaran metematika, untung saja Yuka si peringkat Pertama senantiasa membantu Doni yang kesulitan dalam Pelajaran ini.
Sesaat setelah bell pulang Sekolah Doni buru-buru keluar kelas dan langsung menuju ke kelas Hadin, dan tentu saja itu menjadi pemandangan mengherankan bagi Yuka sendiri.
“kamu sudah ingin pulang Don?”
“aku sudah pacaran dengan Hadin” jawabnya, menghiraukan pertanyaan dari temannya, Karena sudah mengerti dengan maksud  Yuka itu,  
“serius kamu?” teriaknya spontan
“us!…pelan kan suara kamu?
“iya iya wah hebat kamu yah”
“Ok Aku pergi dulu” Doni bangkit menuju pintu Kelas
“hemm ok sepertinya tugasmu tidak akan pernah selesai kalau seperti itu.
“Persetan dengan Tugas!”





















5
Doni adalah Siswa yang aktif di kegiatan ekstrakulikuler, tidak seperti kebanyakan siswa  yang sehabis sekolah, langsung pulang ke rumah, Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di Sekolah, tapi tidak seperti hari ini, setelah Isin ke Leon, Ia pulang cepat berhubung Doni akan membantu Ayahnya pergi berkebun, selain menjadi pegawai Negeri Sipil Ayah Doni, Erwin juga mempunyai hobi berkebun, Kebun peninggalan kakek Doni ini kira-kira seluas satu hektar dengan bermacam-macam aneka ragam tumbuhan didalamnya, tapi dari kebanyakan tanaman tersebut dominanan tanaman kako yang terhampar di seluruh penjuru Kebun.
Ditengah perjalanan pulang, Doni sedikit terhambat karena dari arah berlawanan tampak sebuah rambu polisi yang bertukiskan permohonan maaf atas ketergangguan para pengguna jalan, jalan ditutup Karena sedang ada hajatan perkawinan, akhirnya pengguna jalan lainnya termasuk Doni mengambil jalur lain memutar yang lumayang agak jauh, Ia berbelok ke kanan  menyesuri jalan memutar tersebut, tiba-tiba Doni merasa tersenyap keheningan menjalar keseluruh jiwa dan raganya, Jiwanya menuntunnya kembali kemasa itu, ‘tempat ini?’ Doni tersadar dimana sekarang Ia berada di suatu tempat dimana Ia harusnya telah melupakannya, tatapannya tajam tapi kosong menatap gang di sisi kiri jalan itu, masih sama tak banyak yang berubah Susana masih terasa mencekam, bahkan masih belum ada lampu penerangan, semuanya tampak angker, Doni masih mengawang dalam khayalan masa lalunya dan tampa sadar motor yang Ia kendarai perlahan menjorok ke kanan dan dari arah berlawanan, motor dengan kecepatan tinggi berusaha mengindari Doni, dan dengan refleks membanting motornya ke kiri, karena sudah tidak bisa menghentikan laju motornya, akhirnya ia keluar jalur, masuk ke trotoar, dan menghantam pagar, yang membuatnya terpelanting jatuh dan hampir menghempaskan tubuhnya ke arah batu besar yang ada didepannya, Doni yang menyadari kesalahnnya segera turun dari motornya, dan dengan ke khawatiran yang luar biasa berharap tidak terjadi apa-apa dengan Orang itu.
“maafkan aku, aku tidak sengaja” sahut Doni yang agak gemetara, dan baru menyadari bahwa Ia seorang wanita yang Ia kenal, meski tidak secara langsung. 
Belum sempat melanjutkan kata-katanya, warga sudah berduyun-duyun datang dan segera membantu Wanita itu, tergopoh-gopoh Ia dibantu menepi kesalah satu rumah waga, aku yang masih kebingungan ikut menyusulnya setelah mengembalikan posisi motornya yang sedikit rusak dibagian jok akibat bergesekan dengan tanah yang sediki berbatu juga ada lecet di beberapa bagiannya.
Keriuhan segera merebak, Orang-orang datang dengan penasaran, mereka mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali, ada apa?, apa yang terjadi?, Ia terlihat meringis kesakitan, beberapa luka memar dibagian tubuhnya segera diberi minyak gosok untuk meredakan rasa sakitnya, pergelangan tangan kanannya keseleo, Ia tidak bisa menggerakkannya secara normal.
“Kamu tinggal dimana?” sahut salah satu warga setelah memberinya minum untuk menenangkannya.
“Aku kenal Dia, aku tidak sengaja, dan hampir menabraknya” sela Doni yang merasa harus bertanggung jawab meski Ia merasa sedikit ketakutan karena kecerobohannya itu
“Oh kamu, hati hati kalau berkendera, sudah tahu jalannya sempit, malah ngebut-ngebut” timpal warga lainnya yang menduga Doni ngebut membawa motor.
Kemudian Doni mengubungi temannya untuk segera datang, berselang beberapa menit kemudian Ia dan sepupu laki-lakinya pun datang dengan gelisa berharap adiknya tidak apa-apa.
“Ok lain kali jangan menghayal kalau sedang berkendera”
“Iya maafkan aku Nita” Sahut Doni merasa bersalah
“maaf dik”
“Iya kak” balas adik Nita yang masih terlihat kesakitan
“aku berangkat dulu Don, ingat jangan menghayal lagi”
“Iya sekali lagi maaf” sambil terseyum ke adik Nita
“hati-hati berkendarnya” tambah Doni
“Ok, dah…..”
Doni segerah bergegas kembali kerumahnya, ayahnya pasti sudah menggerutu tidak jelas karena menunggu Doni, baru saja beberpa meter melangkah, Ia melihat sepasang sepatu yang Adik Nita kenakan, Ia lupa membawanya, Doni segera mengambil lalu memasukkannya ke bagasi motor.
Sesampai di Rumahnya Doni menceritakan apa yang telah terjadi spontan saja Ayahnya menceramahinya panjang lebar karena ketidak hati-hatian dan kecerobohan Doni itu, dan mengusulkan agar datang menjenguk dan membawakannya buah tangan sebagai tanda permintaan maaf dan rasa bertanggung jawabnya, karena ceramah panjang Ayahnya itu membuat mereka tidak jadi berangkat ke kebun.  
Keesokan harinya, dengan masih di selimuti dengan rasah bersalah, Doni memberanikan diri dan datang menjenguknya, setelah sebelumnya memohon isin ke Nita untuk ke rumahnya, sambil menggenggamsepasang sepatu yang Adik Nita kemarin  kenakan.
“Doni ayo masuk!” panggil Nita yang melihat Doni bengong. 
Sepertinya teman-temannya datang untuk menjenguknya pikir Doni, melihat jajaran sepatu yang tergeletak dibawah kakinya.
“Oh iya Nit, nama adik kamu siapa?” Tanya Doni, sejak kemarin sebenarnya Doni ingin menanyakannya, tapi berhubung karena waktu yang tidak tepat, akhirnya Ia mengurungkannya dan baru menanyakannya sekarang
“Natasya panggil aja Aca” sergah Nita cepat 
“ayo masuk!”
“iya iya”
Doni mengikuti Nita masuk ke sebuah ruang keluarga yang dihiasai bemacam hiasan dinding bermotif kaligrafi, dan sebuah Oranamen  lukisan kabbah terpampang di dinding bagian tengah ruangan, menambah kesan religious di rumah ini, di samping foto-foto keluarga Nita yang juga mengihasi ruangan itu, Nita sudah lama tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, seperti kebanyakan orang tua yang jika sudah kehabisan akal mencari pekerjaan di Negeri sendiri, terkadang mereka lebih memilih untuk pergi merantau ke negeri Orang, yang bisa memberinya hidup dan penghasilan yang sudah barang tentu lebih layak dibanding di Negara sendiri, Anita, adik serta neneknya yang juga sudah tua renta hidup dari kiriman uang orang tua mereka.
di bagian sebelah kanan ruangan terdapat sebuah lorong kecil yang langsung mengarah ke kamar Natasya.
“Kalian sudah lama dsini?” sahut Nita ramah ke teman-teman Natasya, mereka yang menyadari suara itu lalu mengarahkan perhatian mereka ke Nita.
Natasyah yang melihat Doni dibelakang kakanya perlahan menyunggingkan senyum kearahnya, Doni merasa legah karena Ia sudah terlihat ceria kembali
“Kami juga baru sampai kak” 
Teman-teman natasyah yang menyadari kehadiran Doni perlahan saling berbisik-bisik dan tersenyum aneh dengan mata terbelalak kearahnya, mereka saling mencolek satu sama lain, karena melihat ketampanan Doni, “bocah SMP saman sekarang” sahut Nita dengan bergumam  sambil tersenyum aneh.
“oh iya perkenalkan ini Doni teman sekelas kakak” merasa tak perlu mejelaskannya lebih jauh, untuk menjaga perasaan Doni bahwa ia lah yang telah menyebabkan adiknya terluka.
“Don” sambil menunjuk sebuah kursi di luar kamar, Karena kamar itu sudah sesak dengan teman-teman natasyah.
“kalian lanjut aja ngobrolnya” sambung Nita
“iya kak”
“Don aku ganti pakaian dulu yah”
“ok, yang cepat” kata Doni yang tidak mau menunggu lama, karena bisa membuat ia seperti orang bodoh yang kebingungan dengan situasi seperti ini.
Nita hanya tersenyum meledek lalu masuk ke kamarnya.
“Untung kamu baik-baik aja” pernyataan yang sebenarnya tidak menggambarkan secara keseluruhan kondisi Natasyah.
“iya aku juga kemarin sempat pusing dan hampir pingsan”
“tapi kamu sudah baikan kan?
“iya” sahutnya singkat
“tangan kamu bengkak lagi” sahut salah satu Pria bertubuh gempal yang duduk di sudut ranjang
“iya bengkak kayak tubuh kamu” sahut temannya yang lain, sehingga membuat yang lainnya tertawa terpingkal-pinkal karena ledekan itu.
Sembari menunggu Nita, Doni sibuk menyimak percakapan mereka yang terdengar seru, kebahagian yang susah dijelaskan melalui kata-kata ketika bersama teman-teman, terkadang kebahagian itu terasa lebih bermakna dibanding kebahagian didalam keluarga sendiri, segera saja Doni menepiskan pikiran anehnya itu, sungguh tidak mungkin, meski selalu saja ada Sepi yang berkepanjangan di kehidupan keluarganya, tapi ia selalu percaya Keluarga adalah tempat untuknya kembali, semua kebersamaan yang baru memang akan terasa jauh lebih bermakna di awal, kemudian seiring berjalan waktu itu tidak akan lagi bergejolak tapi lebih cenderung hangat, sesungguhnya perpisahan akan selalu saja ada, tapi alangkah bijaknya jika memaknai perpisahan itu sebagai hal yang lumrah dan pasti, pasti selalu ada tunas baru yang tumbuh sebagai rengkarnasi dari kepedihan perpisahan itu sendiri, semua telah mempunyai jalan masing-masing. Mungkin satu-satunya yang kekal hanya Cinta dan Tuhan itu sendiri.Cinta yang sejatinya fitrah yang terlahir dari lubuk hati manusia yang seharusnya bisa menuntunnya menuju kebahagian sejati bukannya kepedihan yang tak bertepi.
“kamu kenapa Doni?” sahut Nita yang membuyarkan lamunannya
Belum sempat menjawab Doni sedikit tersentak dan garuk-garuk kepala.
“memang siapa yang sedikit menyambar kamu Aca?”
“ushhh” desis Natasya seraya memperingatkan temannya untuk memelangkan suaranya.
Mereka pun tertawa geli melihat penjelasan Natasya, dengan raut muka bersalah berusaha menjelaskannya kepada teman-temannya, mereka akhirnya mengerti maksud kedatangan Doni kerumahnya.
Nita yang juga mendengar percakapan mereka seolah-olah meledek Doni yang terlihat salah tingkah, dan mengisyaratkan untuk tenang karena ia terlihat bodoh.
Setelahnya mereka pun pulang, tinggal mereka bertiga, Doni, Nita, dan Natasya adik angkat yang sangat di cintainya, Doni pun baru tahu bahwa mereka berdua tidak memiliki hubungan darah apa-apa, kerena sejak awal kelahirannya, Natasya tidak mengetahui siapa Orang tuanya yang sebenarnya, kemudian Dia diadopsi oleh keluarga Nita, tapi itu tidak menjadi masalah bagi mereka berdua, status tidaklah penting, hanya saling menyayangi dan Cinta lah yang akan merekatkan ketidak sempurnaan itu. 
Doni hendak membicarakan mengenai hubungan mereka berdua setelah mendapat penjelasan dari Nita sebelumnya tapi Ia tiba-tiba mengurungkan niatnya, demi menjaga perasaan Natasyah, Ia juga pernah bercerita sebelumnya bila Adiknya ini seringkali mendapat cemoohan dari teman-temannya karena menggapnya sebagai anak pungut, meski terkesan sebagai candaan tapi baginya itu terasa menyesatkan dan akhirnya Ia menjadi anak yang pemurung juga penyendiri, meski begitu Ia tetap berusaha untuk semangat, terbukti dengan Ia memiliki banyak teman, meski seringkali itu juga menjadi boomerang baginya, tapi ada juga yang selalu mengerti kondisinya, itula Nita selalu berusaha untuk menyempatkan waktu bersama Adik kesayangannya itu, Doni yang secara kasat mata melihatnya sebagai Anak yang periang merasa terkesima melihat keteguhan hatinya yang luar biasa, muncul keinginan dari lubuk hati Doni untuk bisa berada di dekat Natasyah, menjaganya juga menyayanginya seperti Adiknya Sendiri.
“ini sepatu kamu, kemarin kamu lupa membawahnya” sahut Doni memulai percakapan.
Natasyah terlihat tersipu malu, Ia begitu senang karena kehadiran Doni yang tidak di duganya.
“iya kak, terima kasih”
“kamu sudah minum obat” sahut Nita sambil mengernyit, dengan nada seorang kakak, bukan lebih tepatnya seorang Ibu yang khawatir kepada Anaknya.
“iya sudah kak”
“ah….” Pekik Doni tiba-tiba
“kenapa Don?”
“aku baru ingat, aku harus ke rumah Hadin”
Doni tiba-tiba bangkit lalu bergegas pergi, tanda Tanya besar kemudian terngiang di Kepala Natasyah, “siapa Hadin?” benaknya mempertanyakan.














6
“Pukul berapa sekarang?” sahut Pria berkepala plontos dengan nada lantang dan terkesan sedang marah itu.
Doni yang hendak menjawab, malah cengngesan dan suara tawa hinggap dan meledak dari dalam mulutnya.
“iya maaf maaf, aduh, Kepala mu itu kayak telur  ayam tahu” lanjut Doni, dan semakin meledek Yuka yang semakin tidak sabaran ingin mencekik Doni.
“mmm dasar, mentang-mentang kamu tidak datang ke sekolah kemarin” timpal Yuka dengan wajah memberengut melihat keberuntungan Doni.
“birpun Aku kemarin datang, belum tentu juga Pak Bobi mencukur rambutku, kan aku sahabatnya” sahutnya lagi, semakin belagu
“sahabat apanya?, palingan kamu yang duluan Ia hakimi, mana kamu sering membangkang lagi” balas Yuka. Itu adalah fakta bahwa Doni sering membangkan kepada guru-guru yang Ia anggap sering memanfaatkan keotoritasannya kepada siswa.
Doni hanya terdiam dan senyum-senyum aneh menatap bangku kosong guru didepan.
“ya kalau aku anggap salah mau gimana lagi?” sahut Doni tiba-tiba.
“Sok tahu kamu!”
“kamu yang sok tahu!”
“nanti nilaimu rendah baru tahu rasa”
“kan ada kamu yang mau bantu aku” tatap Doni ke Yuka, layaknya mata seorang Bayi yang mengharap Permen dari Ibunya.Tapi tatapannya hanya sebentar, lalu buru-buru membekap mulut dengan kedua tangannya lalu ledakan tawa tak dapat ditahannya lagi.
“ternyata begini ya wajah Orang jepang kalau lagi botak”
“memang kemarin kamu kemana lagi sih?” sahut yuka. Menghiraukan tawa Doni yang semakin menjadi-jadi.
“kan sudak kubilang, kemarin itu aku sedang sakit” jawab Doni setelah menghentikan tawanya. “aduh aku sakit perut” sambung Doni yang masih meledek Yuka.
“kamu memang kenapa akhir-akhir ini sering sakit?”
“entahlah” jawab Doni singkat. Ia berbohong, tak sanggup untuk berbicara yang sebenarnya, karena itu malah akan tambah membuatnya sedih.
Kemarin Doni hanya berdiam diri di Pinggir danau, menatap keheningan Air sembari berharap kelegahan atas segala masalahnya, melupakan segala hal-hal yang dilihat sehari-harinya, meski seringkali Doni merasa itu sia-sia, de javu, pikirnya, setiap pulang kerumah hanya teriakan, omelan, dan pertengkaran tidak jelas yang dihadapinya, seakan hedseat yang Ia pasang ditelinganya masih sanggup menembus potongan-potongan suara yang menjengkelkan dan membuatnya terus kepikiran, “cerai”, “bunuh saja aku”, “anjing”, dan kata-kata hujatan lainnya, juga pecahan piring, dan apa saja yang bisa dilemparkan serampangan.
Doni tahu betul Ibunya yang selalu berusaha memulai, entah kenapa, pikir Doni tak tahu, jika emosi ayahnya sudah memuncak karena tak tahu lagi harus berbuat apa, tamparan segera dilayangkannya, setelahnya Ia pergi dan terkadang pulang besok harinya.
Gosip tetanggalayaknya Racun yang menyebar dengan cepat, bisikan-bisikan yang terkadang sengaja dibesar-besarkan digunakan sebagai senjata untuk mengelok-ngolok, jika sudah tak tahan, Doni hanya akan lari dengan berlinang air mata menjauhi orang-orang itu, kesepian menjadi satu-satunya teman untuk mencurahkan kesedihan, dan amarahnya. 
Sembari menatap Yuka dengan sedih, Doni berpikir betapa bahagi dirinya yang hari-harinya selalu bahagia tanpa beban, tak perlu dibebani dengan masalah-masalah keluarga yang menyedihkan, dan memberatkan.
“cerita saja Don, kalau ada yang mengganggumu” sahut Yuka, menangkap kesedihan diraut muka Doni. “aku pulang duluan” tambah Yuka
“OK” sahut Doni seraya tersenyum
Setelahnya Doni berbalik dan duduk kembali dalam keheningannya, Ia ingin sekali membesakan dirinya dari keterikatan yang sangat menyiksnya, meski Ia sadar betul itu tak mungkin bagi anak seusianya.
Selama kurang lebih setengah jam Ia hanya duduk merenung sibuk dengan pikirannya, sembari sesekali mencoret-coret meja dengan pulpen yang yang tergeletak diatas meja, sepertinya Yuka lagi-lagi lupa membawah pulang pulpennya, Ia memang ceroboh.
Doni kemudian tertunduk, merapatkan keningnya di bangku, menatap kosong ke bawah lantai, sampah yang berserakan di lantai layaknya gambaran kehidupannya saat ini, hanya ada sampah yang dari hari ke hari tak pernah dibuang, hanya terus menumpuk, dan kian lama akan membusuk, sampai meyesakan dada.
“Doni?”
“hey” jawab Doni seraya tersenyum, Ia sudah tahu suara lembut tapi cerewet dari seseorang yang sangat dikenalnya.
“Kamu kok belum pulang?”
“seharusnya aku yang Tanya, kamu kenapa belum pulang?” timpal Hadin dengan memberengut, jengkel dengan Pertayaan Doni yang tidak merasa bersalah itu.
“aku dari tadi tunggu kamu”  tambah Hadin memperingatkan 
Doni. “pulang yuk”
Doni seraya bangkit dari keheningannya, berjalan ke arah Hadin yang berdiri di Pintu keluar, sembari meperhatikannya, Doni mendahuluinya, melangkah keluar membelakangi Hadin yang terpaku dibelakangnya.Hadi hanya terdiam kesal tak tahu harus berbuat apa.
“Ayo pulang!” seru Doni tiba-tiba
Tanpa menjawab Hadin hanya mendesah, kemudian mengikuti Doni dari belakang.
~ ~ ~
“kamu kenapa sih Don?” teriak Hadin masih kesal karena merasa di campakkan
“hemm?” gumam Doni
“kamu sudah bosan sama aku?” tambahnya lagi
“astaga” jawab Doni dengan tidak percaya sembari menatap keatas.
“aku Cuma banyak pikiran hari ini” sahutnya sedikit tergagap. “tolong mengerti!”
“iya iya deh, Aku yang salah”
“bukan seperti itu Din…..ha sudalah” timpal Doni jengkel, merasa putus asa dengan sikap Hadin.
Aku Cuma ingin kamu paham aku sedang menderita, tolong mengerti aku, batin Doni memohon.
“berhenti!, aku mau turun”
“kan rumah kamu masih jauh”
“aku bilang berhenti” teriaknya lagi semaki kesal
Doni akhirnya memberhentikan laju motornya
“Hadin!” Doni semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Doni dengan perasaan khawatir kemudian menyusul Indi sambil berlari kea arah Hadin.
“sudah….kamu pulang saja!” seru hadin “aku mau sendiri” tambahnya lagi.
Ia semakin mempercepat langkahnya
“mana bisa aku pergi….Hadin!”
Hadin tak menjawab Ia terus berjalan menyusuri trotoar, Doni merasa sudah tak tahan dan akhirnya menjangkau tangannya lalu menariknya dengan cepat.
“kamu kasar banget sih” sahut hadin, tak suka dengan perlakuan Doni.
Doni hanya menatapnya tajam, ada raut kesedihan di wajahnya, Ia lalu menarik tangan hadin lagi sampai Ia merapat ke dada Doni.
“Don lepaskan…..” belum sempat Ia melanjutkan kata-katanya, Doni sudah memeluknya erat
Seketika itu juga Hadin merasa terkesiap, dan tertegun didalam dekapan Doni, Ia merasa ada tetes air terjatuh ke pipinya, tangis Doni seakan meluapkan seluruh masalah yang menderanya, pendar cahaya dimatanya hanyalah cahaya semu dari sekeliling kegelapan yang menyelimuti jiwanya, hatinya merasa perih dan terkoyak, bagaikan anak kecil yang kehilangan Ibunya ditengah-tengah keramaian, Ia tak tahu harus berbuat apa, hanya menangis ditengah keramaian dan tidak ada yang memedulikannya.
Melihat kekasihnya seperti itu membuat Hadin sedih dan meneteskan Air mata di dalam dekapan Doni, hanya ada sejuta Pertanyaan yang terngiang di kepala Hadin, Ia merasa bersalah, dan dengan kikuk berusaha meraih Doni lalu memeluknya pelan, Ia lalu membawanya untuk duduk di sebuah kursi panjang dibelakannya sembari berusah untuk menenangkan Doni.
“Doni sudah, sudah ayo Kita pulang!” sahut Hadin, Ia merasa cemas dan sedih melihat kekasihnya itu, Ia lalu memeluknya lagi, dekapannya sungguh membuat Doni nyaman, perlahan Doni mengembuskan nafas, dan agak merasa lega dengan perasaanya, Ia lalu menatap Hadin dalam-dalam, menggenggam tanganya, dan perlahan menyentuh pipinya, Ia kembali menatap Hadin dengan raut muka sayu dan bersyukur, Ia lalu mencium bibirnya dengan pelan, Hadin hanya diam, mereka tenggelam dalam lautan yang seolah-olah tak berujung, angin yang bertiup pelan seraya berusaha menjadi perantara dalam mengungkapkan segala rahasia dibalik ciuman itu, aku bahagia, terima kasih, aku mencintaimu, sangat mencintaimu.
Kehangatan terpancar di kedua bola mata sepasang kekasih itu, mereka pun kemuadian beranjak pergi, 
Hadin percaya ada saat dimana Doni akan menceritakan semuanya, mungkin saat ini belum waktunya, menatap Doni dari belakang membuatnya sedikit merasa lega, diseparuh perjalan pulang mereka hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
“hati-hati ya Don!”
“Iya” jawab Doni tersenyum.



7
Windi hanya berdiri mematung, riuh tangisan teman-temannya semakin menjadi-jadi juga Hadin Kekasih yang sangat dicintai Doni, Ia terus meronta seperti Orang gila yang kehabisan akal, terus meneriakkan nama Doni berulang kali, Yuna sahabat yang selalu bersamanya, hanya bisa mengeluarkan segala daya untuk terus berusaha menahan Hadin, Memeluk dan membekapnya, tangis histeris yang terdengar sungguh memilukan.
Sejuta penyesalan juga permintaan maaf yang tak sanggup terkatakan lewat mulut Windi, lidanya keluh tak tahu harus berkata apa, memandang sahabatnya Indi sungguh membuatnya sulit untuk bernafas, Ia merasa sesak, penuh dengan rasa bersalah. Seandainya Ia merasa lebih Peka, Ia tentu bisa menghentikaan Doni, yang sudah kalap dan tidak bisa berpikir jernih itu, jalannya sudah tidak karuangan, sempoyangan dan seperti orang linglung, Windi yang curiga terus mengikutinya dari belakang, Ia sebenarnya ingin menegurnya, tapi karena ragu melihat Doni yang membawa seutas tali Panjang dengan ekspresi kosong seperti sedang kesurupan itu membuat Windi waswas,juga karena tampangnnya yang acak-acakan dan terlihat menyeramkan membuat Windi tidak jadi melaksanakan niatnya itu. 
Ia hanya terus mengendap-ngendap, sembari berusah menyembunyikan diri agar Doni tidak menyadari kehadirannya.Windi agak sedikit terkejut. Mau apa Doni dibangunan tua tak terpakai seperti ini, Doni masuk menyusuri Koridor dengan kepala terus menunduk, tatapannya kosong menghujam ke bawah lantai,  Penerangan yang remang-remang semakain membuat Windi khawatir dan akhirnya sudah tak bisa menahannya, Ia berteriak memanggil Doni dengan sedikit histeris, Doni yang sempat tersadar dan menoleh sedikit kebelakang, kemudian kembali berjalan dan mamasuki lorong sebelah kanan, hingga hilang dari Pandangan Windi yang masih berdiri di luar Gedung, sontak saja dan dengan refleks Windi berlari mengejar Doni dan berusaha menghilangkan rasa takutnya, seluruh Pikirannya hanya tertuju pada Doni, kekhawatirannya semakin tak terbendung manakala Doni hilang entah kemana sesaat setelah Windi sudah berada di Lorong kedua tempat Doni sudah tak terlihat lagi.
Windi yang memandang sekeliling segera menyadari ada beberapa Pintu disepanjang gedung itu, Windi lalu tersadar. Tali?, tali yang dibawa Doni. Dan sesegera mungkin Ia kemudian memasuki Pintu tersebut satu persatu. 
Tidak, segera saja seluruh bayangan buruk menjalari Kepala Indi, belum juga, dimana Doni?, satu Persatu Pintu di bukanya, Windi semakin sesak tak kala ingin membuka Pintu selanjutnya, suara barang terjatuh, keringat dingin menjalari tubuhnya, Perlahan Pintu dibukanya, dilihatnya sepasang kaki manusia melayang tak menapak, Windi membekap mulutnya, tetesan Air matanya mulai mengalir, bayangan itu sekejap saja menjadi nyata, sesosok manusia, dengan mata melotot, taliyang melingkar di lehernya, juga kursi yang tergeletak jatuh, diperhatikannya dengan saksama, Doni telah gantung diri, sontak Ia dengan histeris menangis tak karuan, Ia segera berbalik lari meminta bantuan. 
Hadin yang masih tak bisa menerima kenyataan terus meronta, Windi perlahan mendekatinya memeluknya, menyadari kehadirannya, Hadin menatapnya dengan tatapan kebencian, dan mencekik Windi seraya meneriakkan kata-kata kasar, menumpahkan segala amarahnya kepada Windi, Windi yang tercekik berusaha melepaskan diri, Ia semakin sulit bernafas, tak ada yang membantunya, semua Orang hanya menatapnyadengan tatapan aneh, seolah semua kejadian ini akibat ulahnya, wajahnya perlahan Pucat, Ia tak meronta lagi dan suara-suaraaneh entah dari mana tiba-tiba memanggilnya, Ia terbangun, keringat dingin membasahi tubuhnya, pipinya terasa hangat oleh tangan seseorang, oh Ibu, dan tahu-tahu Ia telah berada dalam dekapannya, 
Sudah beberapa minggu ini Windi kerap kali bermimpi buruk, entah kenapa, hanya saja untuk Pertama kalinya Ia bermimpi buruk mengenai sahabatnya Doni.
~ ~ ~

“Semoga kau tahu buku ini adalah perayaan kebengisan diri sendiri, sekolah, juga kita”








Indonesia tidaklah dijajah selama 360 tahun, tetapi jika dikaji secara mendalam penjajahan yang berlangsung di Indonesia hanya selama 40 tahun dan setelah itu Indonesia berjuang melawan penjajahan Belanda selam 240 tahun 
(Sudwijo Tejo)
“seorang Politikus yang tidak membaca Multatuli akan menjadi Politukus yang tidak humanis secara modern dan cenderung akan menjadi Politukus kejam”
(Pramodya Ananta toer)
“sikap setengah hati tidak menghasilkan apa-apa, setengah baik berarti tidak baik, setengah benar berarti berarti tidak benar”
(Multatuli / Eduard douwes dekker)





SENDAL


Sendal
Ah….hari ini hujan turun lagi,  garis-garis hujan kian menebal, kulihat jam ditangan ku sudah menunjukkan pukul 02.45 artinya sudah lewat 45 menit waktu yang telah di tentukan oleh Pak Ramli, Orang yang belum sempat aku bertatap muka dengannya, hanya melalui telpon, katanya
“nak rombongan Penganntinnya masih di Perjalanan, ya sekitar pukul dua, usahakan sudah ada ditempat”
Sesaat setelah hujan agak tenang, kami pun yang sekitar 12 Orang ini berangkat dengan menggunakan motor, meski selalu saja begini, baru berselang beberapa meter dari tempat Kami berteduh, hujan kembali turun dengan deras, otomatis kami harus kembali berteduh, bukan terlalu akibat Pakain kami yang mulai basah kuyup tapi terlebih karena gendang yang kami bawa, Alat musik yang satu ini, jangan sampai terkena air, karena akan berpengaruh dengan kulitas suara yang dihasilkannya nanti.
Sudah kuduga, rombongan Pengantin sudah tiba di Lokasi sebelum Kami, tentu Aku sebagai Ketua akan malu, karena hal ini, tapi sepertinya Mereka agak sedikit memaklumi dengan kondisi cuaca sekarang ini, dengan sesegera mungkin kami pun berpakain, tapi baru hendak pergi, salah satu teman kami Lupa membawa Pakainnya, sial, kami akhirnya hanya menari dengan enam orang, empat orang Pemain musik, satu Orang merekam dan satu lagi disamping pemain musik ikut menanyikan kelong-kelong kajang atau nyanyian kajang.
 Penampilan kami tetap sukses, meski kekurangan Pemain, dan riuh tepuk tangan Penonton dengan wajah-wajah yang masih agak tegang seusai penampilan kami terlihat masih berbekas, sepertinya meraka baru Pertama kali melihat tarian seperti itu, tari tradisional kajang, Tari Pa’bitte Passapu, katanya rombongan mereka memang dari Bone, daerah di luar Kalimporo atau masih dalam ruang lingkup Kecamatan kajang.
 Kami seusai melakukan Pementasan seperti biasa berbenah untuk pulang, dan sepertinya kesialan masih menghampiri ku, Sandal ku secara gaib, raib entah kemana, Sandal Putih dengan corak biru bermerek sowallow yang selalu setia menemani kemanapun aku berada telah hilang, tak ada tanda, tanpa bekas.
Satu jam bersama teman-teman berjuang dan yang ada hanya kehampaan, aku pun pulang sebagai Pria kajang yang tak beralas kaki, di iringi gelak tawa teman-temanku.
~ ~ ~
Tidak seperti kebanyakan siswa-siswa SMA lainnya, yang seusai sekolah langsung pulang kerumah, hari-hari yang kulalui banyak tersita oleh kegiatan Sanggar yang sudah sejak dua tahun lalu aku masuki, Sanggar seni Budaya turiolo Kajang atau biasa disingkat SSBTK adalah tempat dimana aku bersama teman-teman banyak menghabiskan waktu bersama dalam kegiatan berkesenian yang merupakan aktivitas keseharian kami, memang sudah sejak beberapa tahun sejak Sanggar ini di bentuk mulai dari awal Perintisan hingga sekarang, Sanggar ini sudah dikenal luas oleh masyarakat, kami telah melakukan Pementasan Tari di berbagai daerah, bahkan Kami telah di bawa oleh Dinas Parawisata Bulukumba untuk melakukan Pementasan Tari di Jakarta dua tahun lalu.
seperti bisa hari ini Kami mendapat orderan lagi untuk melakukan pementasan Tari di acara Perkawinan.
hari ini semangat ku sangat menggebu-gebu karena seperti yang kau tahu sejak sebulan lalu belahan jiwaku yang lain telah hilang, dan sepertinya firasatku mengatakan bahwa ini adalah takdir yang akan mempertemukan aku dengannya lagi, karena hari ini Kami akan melakukan Pementasan di lokasi yang berdekatan dengan tempat yang sejak tiga bulan lalu kami tempati, ditambah lagi salah sorang dari sana mengabarkan bahwa Sandalku telah ditemukan, entah bagaimana kondisinya sekarang.
Tari Pa’bitte Passapu adalah tari tradisional Kajang yang biasa  dipentaskan oleh Pria-Pria Kajang dengan iringan alat musik Pengiring berupa gendang juga alat musik lainnya, dengan Pakain serba hitam, lengkap dengan sarung yang diikatkan di pinggang, sebuah Passapu, atau kain Penutup kepala khas Kajang yang dibentuk sedemikian rupa, dililitkan keseluruh bagian kepala hingga tampak seperti bentuk segitiga yang mengerucut keatas, dan juga sebuah badik, senjata tradisional Sulawesi selatan, sesuai tradisi tarian ini dilakukan  tanpa menggunakan alas kaki, olehnya itu kami harus selalu siap dengan segala kondisi yang ada seperti menghadapi Aspal yang panasnya terkadang tiada terkira, dan kerikil-kerikil tajam yang kerap kali bisa saja melukai kaki. 
Seusai Pementasan, semua peralatan musik, juga pakaian kami angkut keatas mobil berbak terbuka, hari ini memang Kita di antar pulang menggunakan mobil, jadi kami tidak usah repot-repot lagi membawa Peralatan menggunakan motor, hanya berjarak sekitar 50 meter dari tempat kami sekarang menuju arah jalan Pulang, sandalku telah menanti kedatanganku, kehangatan kaki ku akan segera kau dapatkan lagi.
“Pak, berhenti disini pak !” teriak ku agak kencang
Dengan gaya bak drama-drama Korea, aku melompat, lalu berlari menghampiri rumah yang ber cat kuning terang, dengan taman di sekelilingnya, rumah ini telah banyak berubah, bagaimana dengan mu? Pikirku, masih berlari  dengan wajah sumringah, di pintu belakang rumah, disamping pot hijau, pikirku mengingat-ingat perkataan pemilik rumah tersebut.
Dibawah keriangan langit biru, angin sepoi-sepoi, hari yang sungguh cerah, aku datang, disamping pot hijau, dimana?, mataku mencari-cari, ah…ini dia, sedikit berdebuh, menutupi putih tubuh dirinya, dengan wajah menyelidik, aku mendapati sesuatu yang menyengankan, disamping terlalu besar untuk ukuran kakiku, juga ada inisial A yang bertuliskan di bagian sudut kanan bawah sandal itu, mirip bukan berarti sama, dia bukan sandalku.