SAUDARA TIRI
Suara gemericing benda-benda jatuh di dapur. Piring, gelas, sendok jatuh berhamburan di lantai kayu yang masih basah akibat hujan deras semalam. Atap rumbia yang sudah lapuk, dan lama tak diganti membuat kucuran air hujan bisa meresap masuk, mengepul, membentuk tetes-tetes air sebelum perlahan jatuh, lalu kocar kacir menghambur ke segala penjuru setelah membentur papan.
“Ibu! Kan sudah kubilang panggil aku kalau membutuhkan sesuatu”
“A…ku ma…u” belum selesai berbicara.Tuti-Sepupuku itu langsung membawa ibunya, dengan setengah menyeret kembali ke kamarnya. Aku kemudian turut membantu membersihkan pecahan piring yang berhamburan itu.
Tuti mondar-mandir keluar masuk kamar, setelah sebelumnya merapikan kembali Kasur apek ibunya. Sudah sekitar empat atau lima tahun, aku tak tahu tepatnya kapan, sejak bibiku itu hanya terbaring di Kasurnya. Lumpuh dengan kedua kaki yang hanya bisa diseret secara paksa. Mulut kaku seperti ada sebatang kayu menjanggal yang menyulitkannya untuk berbicara. Butuh kesabaran agar bisa menangkap maksud, ketika Ia hendak mengatakan sesuatu. Tubuh kurusnya hanya berselimut kulit tanpa daging. Rambut panjang tergerai yang selalu penuh dengan kutu, dan helai demi helai rambutnya perlahan mulai meranggas.
Ayahku pernah bercerita bahwa kelumpuhannya dimulai sesasat setelah Ia dan Suaminya pulang dari Malaysia, dan sekarang sudah dua belas tahun lamanya. Ada yang bilang bahwa Ia terkena guna-guna akibat masalah utang-piutang, tapi itupun hanya cerita belaka yang tak pasti kebenarannya. Awalnya hanya sulit berbicara, yang diduga akan sembuh segera, tapi belum kelar, penyakit lain sudah merambah bagian tubuh lain, kakinya perlahan sulit digerakkan lama kelamaan gejala-gejala aneh segera menggerayangi tubuhnya. Bukan berarti kami diam saja dan tak pernah melakukan sesuatu. Pernah atau bahkan seringkali kami membawanya ke Dokter, tapi Mereka pun tak tahu betul apa penyebab kelumpuhannya itu. Begitupun dengan Dukun-dukun yang dipanggil untuk mengobatinya tak banyak membantu. Rapal mantra yang ia tiupkan di air gelas yang digunakannya sebagai Obat untuk Pasien hanya mengawang sebentar bak kepul asap rokok yang perlahan hilang. Tak ada perubahan, kondisinya masih sama. Tak berselang lama Suaminya pun meninggal sewaktu mengait kelapa di kebun, kait besi yang ia gunakan tak sengaja menyentuh kabel telanjang tiang listrik.
Jadilah sekarang Ia seperti ini, kondisi yang mungkin paling buruk yang dialami manusia. hidup dalam kematian. Segala kebutuhannya diurus oleh anaknya. Ia mempunyai lima orang anak, salah satunya, anak tertuanya berasal dari suami pertamanya, tapi telah bercerai, dan menikah lagi dengan suaminya yang telah meniggal itu.
Tuti anak keempatnya tinggal bersama keluargaku, seorang gadis berumur lima belas tahun, satu tahun lebih tua dariku, wajah dan perawakannya terlihat keras, kulit hitam dan agak sedikit gemuk. Sementara empat saudaranya yang lain, dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuan, termasuk kakak tirinya tinggal di rumah nenek yang telah berumur sekitar enam puluh tahun, tapi masih lebih sehat daripada anaknya yang lumpu itu, meski tak terlalu juga bisa dikatakan sehat benar, karena disamping usianya yang sudah melewati separuh abad. Juga karena encoknya yang sering sekali kambu. Rumahnya tepat di samping rumahku.Sebenarnya semua biaya kebutuhan hidup sepupu-sepuku itu, termasuk nenek dan Bibi yang dibiayai oleh orang tuaku, termasuk biaya pendidikan mereka. Barulah kemudian setelah kakak tiri Tuti yang tertua, Anti menjadi Guru PNS di sebuah Sekolah Dasar, semua tanggungan hidup saudara-saudaranya kemudian dialihkan padanya kecuali Tuti yang menjadi tanggungan keluargaku.
Kuakui hubungan mereka dengan saudari tirinya memang kurang akrab, ini terlebih karena dalam mengurus Ibu mereka yang sakit lebih banyak dikerjakan oleh Marsita anak ke tiga Bibi, dari struktur wajah, Ia memang lebih cenderung mirip dengan Ibunya dibanding saudaranya yang lain, kulitnya agak sedikit terang, dan tampak lebih feminim, hidung pesek, dan tubuh bongsor.
Seringkali jika Marista sudah jenuh atau mungkin capek mengurusi segala keperluaan Ibunya, mulai dari memandikan, mencuci pakaian, menceboki Ibunya, dan terlebih jika ibunya buang air di kasur, maka pekerjaannya akan bertambah, di saat-saat seperti itulah Marista akan menggerutu, dan mengatai-ngatai saudari tirinya itu. Bahkan setiap kali aku datang kerumhnya dan mendapati ia sedang memandikan ibunya, tak pernah lewat dari telingaku umpatan-umpatan yang ia tujukan kepada saudari tirinya itu.
“dasar anak durhaka!”
“ih…tidak tau diri sama Ibu apa?”
Atau kadangkala Marista berbicara langsung kepada Ibunya tentang betapa buruk perilaku anak sulungnya itu terhadapnya.
“lihat Bu betapa tidak pedulinya Ia padamu, mentang-mentang sudah kerja. Dasar! Apa ia tidak tahu apa kalau Ibu yang membesarkannya, atau mungkin ia tidak menganggapmu sebagai Ibunya lagi”
Bibi hanya terdiam, entahlah mungkin ia dengar dan hanya kernyit samar yang tampak pada wajahnya yang kaku, lalu perlahan ia meneteskan air mata, itu sudah menjadi tanda betapa tersiksanya Ia. Aku hanya menduga-duga bahwa segala yang ada dalam batinnya pasti berkecamuk, campur aduk dan tak tahu harus berbuat apa.
Marista tak pernah mengungkapkannya secara langsung kepada kakanya itu, Karena Ia juga berusaha sedapat mungkin menghormatinya, atau lebih tepat takut padanya.
Semua pekerjaan memang secara tidak langsung ditanggung oleh Marista, karena disamping Tuti yang tinggal dirumahku, dan meski setiap hari datang membantu Marista, tapi tak terlalu lama, ya juga karena sudah barang tentu ia harus membantu Ibuku mengurus segala keperluan rumah tangga. Adiknya yang paling bungsu juga masih SD kelas dua dan tak banyak bisa membantu, sedangkan kakak Laki-lakinya sekarang sedang menempuh pendidikan di salah satu Sekolah Kelautan. Nenek pun meski masih mampu, hanya bisa membantu sekadarnya, karena seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, disamping faktor usia dan Encoknya yang seringkali kambu dan jika sudah seperti itu, Ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Kejengkelan Marista bisa semakin bergejolak jika salah satu dari keluarga atau tetangga datang menjenguk Bibi. Sudah pasti yang akan ditemui pertamakali sebagai anak yang paling tua dan sudah cukup umur untuk bisa diajak untuk membahas segala hal yang biasa dipercakapankan oleh Orang dewasa pada umumnya.
“oh…bersyukur lah kau Jumiati, karena kau masih memiliki anak seperti Anti yang selalu memandikanmu, mencebokimu jika kau buang air” kata salah seorang kerabat yang datang berkunjung.
Marsita yang hanya mendengar dari luar kamar kemudian mendongkol geram. Wajahnya dengan jelas menampakkan ketidaksukaan terhadap kata-kata yang tak tahu apa-apa itu.
“menceboki apanya?” katanya kepadaku, meski seperti tidak benar-benar serius bertanya. Terlebih pasti hanya karena kekesalannya.
“melihat tai saja ia pasti sudah jijik, apalagi kalau mau menceboki Ibu. Asu!”
“pasti ia sok bangga di depannya, dasar penjilat!”
Cercaan terus dilancarkan oleh Marista meski dengan suara yang agak dikecilkan.
Aku pun tak tahu harus bersikap bagaimana, disamping berusaha untuk mengerti perasaanya, juga berusaha agar tak terlalu terpropokasi oleh cercaan yang ditujukan kepada kakanya.
Entahlah aku sok tahu atau tidak, tapi jika aku lamat-lamat memperhatikan Anti. Aku merasa Ia juga sudah pasti menyayangi ibunya juga, tidak serta merta seperti yang sering diutarakan Marista. Mungkin hanya karena dipengaruhi faktor malas, entalah, atau juga jijik ataupun tidak terbiasa melakukan segala hal yang berkaitan dengan apa yang sering dilakukan Marista. Semua biaya hidup pun ditanggung olehnya, dan tampak tidak keberatan dengan hal itu.Kebutuhan sandang dan pangan senantiasa dilimpahkan kepada adik-adik, nenek dan Ibunya.
Tahun-tahun berlalu dan Anti telah bersuami dengan sorang pegawai BANK dan memiliki seorang putri kecil yang cantik persis dengan Ibunya. Separuh bagian rumah kayu milik nenek, bagian depan telah dibongkar dan telah tersusun batu bata. Perlahan rumah ini dihancurkan dan digantikan dengan rumah megah dengan lantai tegel, dinding bata yang akan dilapis plamir semen putih, juga parkiran mobil disamping rumah kelak akan dibangun. Begitulah yang kudengar saat Anti dan Suaminya bercerita kepada Ayahku. Katanya ini juga agar Bibi bisa lebih nyaman. Hujan tidak akan mudah lagi merembes masuk melalui atap rumbia yang sudah lapuk itu. Begitupun dengan nenek yang sudah lebih banyak berada di dalam kamar, Ia akan dibuatkan kamar senyaman mungkin dengan Kasur empuk yang akan merawat encoknya bila kumat.
Semua cita-cita itu diharapkan Anti akan terlaksana tidak lama lagi.
~ ~ ~
“ayo segera bawa ke rumah!” perintah ayah, kemudian beralih padaku
“Haikal cepat panggil pak Imam!”
Segara mungkin aku berlalu setelah mendapat perintah dari ayah.
Kami dari jauh hari memang telah mempesiapkan hal ini. Mungkin inilah saatnya.Tetaangga-tetangga terdekat sudah berkumpul dirumahku. Mereka semua tenang, hanya berbicara seadanya untuk meredakan ketegangan, dan sesekali melirik kedalam kamar. Kamar milik tuti dengan segala perabot belajarnya, meja, kursi dan sebagainya telah dikeluarkan kecuali sebuah kasur yang tetap dibiarkan tinggal sebagai alas tempat Ibunya sekarang terbaring tak bergerak. Wajahnya pucat dengan mata sendu memandang kosong ke arah langit-langit. Ibu, ayah, nenek, sepupu-sepupuku, suami Anti, tetangga, beserta pak imam duduk melingkar di seputaran Kasur. Akbar sepupuku yang paling bungsu itu sudah menagis tersedu-sedu di pangkuan nenek. Lalu erangan panjang terdengar, Pak imam dengan halus terdengar terus melafalkan dua kalimat syahadat di kupingnya. Hening sesaat lalu perlahan Pak Imam berucap “Innalillahi wainnailaihi rojiun” Seketika semua tangis pecah. Pak imam segera menutup kedua mata bibi.Aku yang berdiri di luar pintu kamar juga ikut meneteskan air mata. Adik lelakiku yang masih tiga tahun kupegangi erat pun ikut menangis, meski sepertinya ia masih belum terlalu mengerti tentang apa yang terjadi. Tuti yang tampaknya masih tidak percaya tiba-tiba pingsan dan segera dibopong oleh ayah.
“oh…ibu kau belum sempat menikmati rumah baru kita, maafkan aku ibu, jangan tinggalkan aku!” tangis histeris Anti terus diluapkan sejadi-jadinya.
“maafkan aku ibu! Maafkan aku…” Ia dekap ibunya sangat erat penuh kasih. Begitupun dengan Marista, hanya terus menangis tak karuan. Disampinnya Ia memegang tangan Ibunya lalu perlahan kepalanya bersandar di bahu Anti. Ada keakraban yang terasa sangat hangat yang belum pernah kusaksikan selama ini setelah Anti merengkuh bahu adiknya, lalu memeluknya dengan haru biru air mata yang semakin meluap-luap.
No comments:
Post a Comment